oleh

Kue Tapel, Crepes Tradisional Khas Cirebon

Citrust.id – Jika mendengar nama kue tapel mungkin hanya sedikit orang yang tau seperti apa bentuk dan rasanya. Kue yang terbuat dari tepung beras dicampur parutan kelapa, ketan dengan isian pisang berlumur gula merah ini adalah makanan khas Cirebon sejak zaman kerajaan dulu.

Bentuk kue tapel kurang lebih menyerupai crepes atau kue dadar yang kini banyak di pasaran. Meski sederhana, aroma wangi sedikit gosong dari kelapa dan ketan yang ditipiskan di atas wajan beralas tungku kayu, berhasil meciptakan harum yang membuat perut keroncongan.

Dinamakan kue tapel lantaran cara pembuatannya unik yakni adonan ditempel-tempel ke permukaan wajan, orang Cirebon menyebutnya tapel. Setelah itu ada tambahan pisang yang dilumatkan bersama gula merah. Sesaat tutup wajan dibuka, legit dan aroma manisnya pisang tercium beradu dengan gurihnya kelapa.

Lena, mungkin menjadi satu di antara beberapa orang yang hingga saat ini masih melestarikan makanan tradisional tersebut. Dirinya mengaku, usaha kue tapel sudah menjadi usaha warisan dari neneknya dan hingga kini sudah berjalan puluhan tahun.

“Kalau untuk pastinya kapan, saya sendiri tidak ingat. Pokoknya sudah lama sekali, sejak zaman nenek masih berjualan,” terang Lena kepada citrust.id saat di temui di lapak jualannya di Jl. Pagongan Gg. Alas Demang 3, Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon, Kamis (18/10/2018).

Menurutnya, membuat kue tapel dengan menggunakan tungku kayu menjadi hal wajib dalam pembuatan kue tradisional ini. Pasalnya, cita rasa yang dihasilkan sangatlah berbeda jika dibuat dengan kompor gas.

“Saya ingin mengedepankan keorsinilan kue tapel. Kalau pakai tungku kayu kan aromanya berbeda, lebih khas, lebih gurih rasanya,” tambahnya.

Lena mempraktikkan, kue tapel paling nikmat jika disantap ditemani dengan teh hangat pahit. Paduan rasa gurih dan manis dicampur hangatnya teh menjadi kenikmatan rasa tersendiri. Terlebih jika dinikmati saat pagi hari sebelum memulai aktivitas.

Saat gigitan pertama, tekstur agak keras pada lapisan kue tapel menghadirkan rasa renyah. Belum lagi pisang yang dibalut dengan lumeran gula merah dan ketan menjadi kombinasi yang serasi. Rasa renyah dan gurih pada bagian luar, dibalas dengan rasa legit yang lembut pada bagian dalamnya.

Lena pun berharap, penjualan kue tapel seperti dirinya bisa terus bertambah dan tidak punah. Terlebih sudah sangat sulit di zaman sekarang ini yang menemukan pedagang makanan tradisional.

“Kalau anak saya sudah pada bekerja dan tidak ada waktu untuk meneruskan usaha ini. Namun, ada menantu saya yang biasa jualan kue tapel dulunya. Harapannya sih mau meneruskan usaha ini,” tandasnya./dhika

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed