oleh

Kobong 3

Catatan Dadang Kusnandar

API yang membumihanguskan kota berlangsung di Bandung tak lama usai Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Lagu Halo-halo Bandung karya Koesbini menekankan secara heroik: Sekarang telah menjadi lautan api/Mari bung rebut kembali.

Bandung Lautan Api adalah peristiwa kebakaran besar yang terjadi di kota Bandung, provinsi Jawa Barat, Indonesia, pada 24 Maret 1946.

Dalam waktu tujuh jam, sekitar 200.000 penduduk Bandung membakar rumah mereka, meninggalkan kota menuju pegunungan di daerah selatan Bandung. Hal ini dilakukan untuk mencegah tentara Sekutu dan tentara NICA Belanda untuk dapat menggunakan Bandung sebagai markas strategis militer dalam Perang Kemerdekaan Indonesia.

Saya belum memperoleh data apakah saat itu Bandung merupakan gudang persenjataan militer Belanda yang lebih lengkap dibanding kota lainnya di Indonesia. Hanya saja fakta tentang pembumihangusan kota dalam waktu sekejap dan dilakukan beramai-ramai oleh sekira 200 ribu penduduk merupakan heroisme yang luar biasa.

Namun, ada kesan (maaf) ketidakmampuan melawan/ menghadapi gempuran Tentara Sekutu dan NICA jika benar hendak menjadikan Bandung sebagai markas militer. Pun tersirat ketidakmampuan Barisan Tentara Rakjat (BTR) menggunakan senapan/senjata militer Belanda yang (mungkin) terkonsentrasi di beberapa gudang senjata di Bandung.

Daripada kalah perang, daripada malu dipukul mundur musuh, maka membakar kota menjadi alternatif terburuk.

Setelah terbakar, dan dikenal dengan Peristiwa Bandung Lautan Api maka masyarakat dunia tercekam. Betapa kekayaan, bumi dan alam sekitar pun rela dikorbankan demi sebuah pertaruhan: Tak ingin lemah cai (tanah air) menjadi tanah jajahan. Kemerdekaan Indonesia sudah dikumandangkan 7 (tujuh) bulan yang lalu. Maka inilah saatnya mempertahankan kemerdekaan.

Membakar Kota Bandung bukan urusan sepele. Sebagaimana Bogor, kota di Selatan Jawa Barat yang sejuk itu dirujuk sebagai tempat istirahat/wisata kaum ningrat Belanda.

Di pusat Kota Bandung banyak didirikan bangunan penting Belanda baik untuk pemerintahan kolonial maupun kepentingan bisnis. Maka, manakala ratusan ribu penduduk Bandung membakar kota, inilah momentum sejarah yang heroik dan dramatik.

Tokoh penting pada Bandung Lautan Api ialah Mohammad Toha (1927 – 1946). Komandan Barisan Tentara Rakjat, sebuah kelompok milisi pejuang yang aktif dalam masa Perang Kemerdekaan Indonesia.

Mohammad Toha meninggal dalam kebakaran ketika melaksanakan misi penghancuran gudang amunisi milik Tentara Sekutu bersama rekannya, Mochammad Ramdan, setelah meledakkan dinamit dalam gudang amunisi tersebut.

Kobong dalam konteks sejarah ini adalah perlawanan rakyat terhadap kesewenangan kaum penjajah. Api yang membara merupakan sistem tanda mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang butuh kesungguhan berkorban. Dan, yang dikorbankan itu tidak main-main, yakni membakar Kota Bandung.[]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed