oleh

Kerajaan Cirebon

Oleh HABIL AHMAD MARZUKI

TERUS terang saja saya katakan bahwa buku kuno karya Pangeran Aria Cerbon dengan judul Carita Purwaka Caruban Nagari menjadi buku legendaries di kalangan ahli sejarah Cirebon, juga menjadi buku wajib bagi siapa saja yang sedang melakukan penelitian tentang kerajaan Cirebon atau ideologi Kerajaan Cirebon di masa lalu.

Hal tersebut saya rasakan betul pada saat menemani rekan berkewarganegaraan Jerman, Dr. Christiane Meier pada sekitar satu setengah dekade yang lalu.

Buku tersebut seolah menjadi menu utama setiap kali kita duduk bersama di pagi hari. Kami selalu melakukan bedah buku berdua atau kadang bertiga dengan seorang ahli sejarah lainnya. Kadang kami mengalami kesulitan dalam memahami sejarah yang tercatat dalam Carita Purwaka Caruban Nagari, namun kami selalu memiliki narasumber sejarah Cirebon yang dapat kami jadikan rujukan dalam melakukan penelitian tersebut, jika kami tidak mengunjungi Pa Kartani, maka kami akan mengunjungi Pa TD Sudjana.

Dari dua tokoh ahli sejarah Cirebon ini, kami bisa mengambil banyak pelajaran tentang sejarah Cirebon. Mereka berdua bukan hanya pandai memnyampaikan sejarah Cirebon kepada banyak peneliti, tetapi juga memiliki sumber bacaan buku kuno yang menarik untuk dibedah. Salah satunya adalah Carita Purwaka Caruban Nagari (CPCN).

Dalam CPCN kita dapat menemukan dengan mudah bahwa nama Kota Cirebon itu ternyata berasal dari kata Caruban yang bermakna campuran. Nama Caruban ini menjadi sebuah informasi yang mengungkapkan bahwa Cirebon sejak zaman kerajaan sudah dihuni oleh banyak orang dengan berbagai warna kulit dan bahasa yang beragam.
Masyarakat Caruban dikenal sebagai masyarakat yang hetrogen dan mampu menerima budaya dan ajaran keagamaan dari masyarakat lainnya. Masyarakat Caruban yang adaptif ini mampu menjadi magnet bagi penyiar agama dan budaya kala itu. Bahan tidak sedikit peneliti tentang Cirebon yang mengatakan bahwa tumbuh berkembangnya berbagai aliran keagamaan di wilayah Cirebon, tidak dapat dilepaskan dari karakter masyarakat Cirebon yang adaptif.

Dikatakan dalam sebuah catatan sejarah dan menjadi masyhur di kalangan masyarakat Cirebon yang menyimpulkan bahwa kata Cirebon itu berasal dari gabungan dua kata, Ci yang dalam bahasa sunda merupakan kependekan dari Cai artinya air dan rebon yang berarti udang kecil.

Menurut beberapa cerita yang berkembang di masyarakat, dikatakan bahwa beberapa keluarga kerajaan Galuh berkunjung ke rumah Pangeran Cakrabuana untuk sebuah keperluan kedinasan, terkait dengan masalah kerajaan. Pangarean Cakrabuana memberikan sambutan yang hangat dan bersahabat dengan memberikan jamuan makanan. Salah satu menu yang dihidangkan adalah makanan dengan menggunakan terasi sebagai penyedap masakan.

Keluarga kerajaan Galuh dengan beberapa masyarakat Galuh yang ikut serta dalam jamuan makan tersebut, sangat menyukai menu masakan yang menggunakan terasi rebon sebagai penyedapnya. Pangeran Cakrabuana pun memberikan penjelasan bagaimana terasi rebon tersebut diolah hingga bisa digunakan sebagai penyedap masakan.

Berita tentang penemuan yang dilakkukan oleh Pangeran Cakrabuana ini sontak menyebar hingga ke Rajagaluh. Bahkan pihak kerajaan Rajagaluh pun memeberikan perintah untuk membeli dalam jumlah besar terasi berbahan dasar rebon dan sedikit air ini. Hingga akhirya Rajagaluh memberikan nama Cirebon. Penamaan Caruban berubah menjadi Cirebon menjadi babak baru berdirinya Cirebon pada tahun 1445.
Momentum pemberian nama atau penamaan Caruban menjadi Cirebon ini menjadi peristiwa bersejarah yang terus dikenang oleh masyarakat Cirebon hingga sekarang.

Dari peristiwa di atas kita bisa menyimpulkan bahwa penamaan Cirebon berasal dari kerajaan Rajagaluh yang memiliki akar bahasa Sunda, dengan tidak mengabaikan kata rebon yang memang berasal dari bahasa Jawa. Jelas di sini kita masih bisa menemukan perpaduan dua bahasa di Cirebon ini, yaitu Ci yang dalam bahasa Sunda berartri air atau sungai dan rebon yang bermakna udang kecil dalam bahasa Jawa.

Identitas Cirebon atau Caruban sebagai pertemuan dua bahasa ini menjadi sesuatu yang tidak dapat dielakkan lagi sehingga wajar saja ketika masyarakat Cirebon tetap berada dalam keberagaman bahasa dan budaya.

Penemuan terasi sebagai penyedap masakan ini terus mengalami penyebaran hingga ke seluruh bumi jawa. Penyebaran Terasi Cirebon ini menyebar dengan pesat, mengingat Cirebon sebagai Pelabuhan besar dan tempat pertemuan para pedagang besar. Tidak aneh ketika dikatakan oleh Tommi Peres seorang peneliti berkebangsaan Portugis mencatat dalam penelitiannya bahwa Cirebon adalah sebuah Kota Pelabuhan yang ramai dengan perdagangan, tempat bertransaksi pedagang Nusantara dan Mancanegara pada awal abad ke 16. Bahkan seorang peneliti lainnya, Diego Ribeiro, pada awal abad ke-15 atau tahun 1526 menuliskan kata Caruban dalam peta dunia.

Peta yang ditulis pada tahun 1526 ini menunjukkan betapa Cirebon memiliki daya tarik tersendiri bagi para peneliti, mengingat pengurus Kerajaan Cirebon dengan berbagai nilai-nilai budaya yang terus berkembang dengan tidak mennghilangkan originalitas dari budaya terdahulu, mampu memberikan daya tarik tersendiri bagi siapa saja yang berkunjung ke Kota Pelabuhan ini. []

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed