oleh

Kegelisahan Spiritual

Oleh Wahyu Rohaedi

KETEGANGAN-ketegangan jiwa sekaligus spiritual yang terjadi sebagai akibat perubahan sosial yang begitu cepat, dapat membuat kisruh akal sehat kita dalam mengimplementasikan ajaran-ajaran agama (baca: Islam) yang sesuai tuntunan syariah. Sebagian umat kini berhenti pada pemujaan dan lupa esensi dari ajaran untuk berserah diri kepada Allah Swt.

Dalam ketegangan psikologis-spiritual itu, umumnya kita lupa bahwa kita justru sedang mencapai suatu wilayah yang jauh dari nilai-nilai agama. Situasi lupa kolektif tersebut diakibatkan karena tindakan-tindakan sosial kita dalam takaran pribadi maupun jamaah, memang sangat memberi ruang lahiriyah sebagai manifestasi kesalehan, bukan sebaliknya, kita terlalu terbuai pada situasi palsu.

Banyak orang yang diam-diam mendambakan kewibawaan spiritual dengan cara itu, ironisnya lagi kadang kewibawaan itu dijadikan alat bagi kepentingan-kepentingan sosial, ekonomi dan politik. Intinya glamour serba “akherat” itu kemudian anjlok seperti nilai rupiah anjlok terhadap dolar, dikarenakan alat tukarnya barang-barang duniawi yang ujung-ujungnya bersifat profan alias palsu.

Kegelisahan psikologis-spiritual juga mendorong sebagian umat berbondong-bondong mengikuti aneka corak pengajian massal, takbir akbar banjir jamaah, mujahadahan, manakiban, istighosah, dan lain-lain mengundang gairah umat untuk bergabung. Mereka mungkin menemukan kepuasan spiritual, tapi kehilangan nilai-nilai ruh keagamaan. Hal itu ditandai dengan implementasi keseharian tata hidup umat yang jangankan mencerminkan wajah Islam, malah lebih ironis lagi kehidupan umat lebih cenderung mengarah kepada kemundurun akhlak dan juga aqidah.

Jadi hakekatnya Umat Islam saat dalam situasi tegang, baik secara psikologis maupun spritual, mereka saling curiga, anehnya dalam situasi serba saling curiga tersebut ada sebagian ulama mengatakan bahwa kita adalah bersaudara, sang ulama menganalogikan sakit yang satu berdampak pada sakit yang lain, tapi fakta di lapangan justru kita merasa senang dan bergembira manakala ada kelompok Islam yang “sakit”, entah karena diakibatkan faktor politik ataupun faktor lain.

Permasalahan-permasalahan di atas sangat memprihatinkan sekali, situasi ini dapat mengakibatkan luka hati yang mendalam di hati umat yang agak sulit untuk disembuhkan, apalagi umat akan dihadapkan lagi dengan berbagai persoalan bangsa yang dapat mengancam keberlangsungan ikatan ukhuwah Islamiyah. Para pemimpin umat sepertinya tidak begitu peduli dengan keadaan ini. Sebagian kelompok umat Islam sudah merasa puas dengan kesalehan-kesalehan simbolik seperti dalam bentuk busana contohnya. Kebingungan demi kebingungan ini diam-diam membawa rasa gelisah dan takut. Karena bagaimanapun iman yang masih tersisa di nurani umat, merupakan senjata yang tak tergantikan, dan ini berdaya ledak cukup dahsyat jika sewaktu-waktu meledak tanpa menunggu komando ulama.

Para koruptor serta tukang catut spiritual, mereka yang sering bicara serba ruhani, tapi hakekatnya mencari untung pribadi sering berbaur dengan kelompok jamaah yang benar-benar ingin berhijrah dari situasi kejahiliyahan menuju fase pencerahan. Kelompok umat saleh dan umat “abal-abal” tampil sama khusunya dalam pengajian, dalam acara buka puasa bersama, dalam jamaah haji dan umroh.

Perkembangan situasi yang serba karut marut seperti ini menyemarakkan sebagian orang mengenakan jubah kyai, banyak orang dipantas-pantaskan seperti orang suci walaupun yang bersangkutan ternyata jago korupsi. Diam-diam kita semakin tumpul dalam menilai seseorang, emas kita buang-buang sedangkan besi kita simpan di tempat terpandang. Inilah orde di mana masyarakat dan umat yang hanya tahu bahwa hidup di dunia hanya terpaku pada tujuan utama mengejar materi dan uang. Inilah hidup yang walaupun kita banyak mempunyai ulama, tapi sejatinya kita kehilangan ulama . Wallohu a’ lam. []

*Penulis adalah Manager Koperasi Kayu dan Mebel Kaliwulu.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed