oleh

Kaji Media ke-8, Komunitas Jagajari Usung Tema “Kilas Balik Pers Cirebon”

Citrust.id – Era keterbukaan informasi memicu tumbuh suburnya industri media, baik cetak maupun elektronik. Dengan ragam nama dan aneka konsep, perusahaan media terus bermunculan dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Hal tersebut juga terjadi di Kota Cirebon. Hari ini setidaknya ada 50 lebih media online dan cetak yang turut memberi sumbangsih terhadap dinamika dunia jurnalistik di kota wali ini.

Ditilik dari sisi sejarah, dinamika sejarah media di Cirebon secara umum banyak dipengaruhi oleh peristiwa yang terjadi di luar Cirebon. Seperti dipaparkan Dadang Kusnandar, penulis senior yang berdomisili di Kota Cirebon, setidaknya ada dua peristiwa besar yang turut memengaruhi pola dan dinamika media di Cirebon, diantaranya adalah Reformasi 1998 dan masuknya era digital.

Dadang menegaskan, perkembangan pers di tiap daerah tak lepas dari kondisi sosial-politik yang terjadi. Hal itu lah yang membuat corak media di suatu daerah berbeda dengan daerah lainnya.

Namun yang menarik di Cirebon, geliat aktivitas jurnalistik berawal dari inisiatif sejumlah orang, dengan segala keterbatasan modal saat itu, untuk terus melakukan perubahan melalui kerja-kerja Jurnalistik.

“Sejarah media di Cirebon bisa dimulai dari munculnya PR Edisi Cirebon, sekitar tahun 1978 dengan tagline saat itu, ‘koran masuk desa’. Tapi hal itu tak bisa dilepaskan dari kebijakan Harmoko yang merupakan Menteri Penerangan di era tersebut. Dengan hanya 4 halaman, dan terbit seminggu sekali, PR Edisi ini terus menunjukan eksistensinya hingga akhirnya diakui pengaruhnya oleh masyarakat luas,” terangnya.

Dadang melanjutkan, kondisi persaingan industri media saat itu masih minim. PR Edisi dengan ciri khasnya melakukan peliputan mendalam terhadap aktivitas sosial-pedesaan, diam-diam menjadi bacaan utama bagi masyarakat Cirebon. Dengan konten-konten yang dianggap dekat dengan masyarakat, juga nilai lokalitas dan kebudayaan yang kental, “PR Edisi” sempat mengalami masa kejayaanya hingga akhirnya mendapat dana dari Pikiran Rakyat Bandung untuk melakukan perluasan baik dari sisi oplah, periode terbit juga pola produksi.

“Sejarah media di Cirebon mulai mengalami dinamika saat persaingan industri media mulai terjadi. Hal ini diakibatkan kemunculan media-media baru, salah satunya adalah Radar Cirebon, yang kita tahu sama-sama memiliki modal yang kuat,” tegas Dadang.

Kemunculan media-media baik yang bermodal besar maupun kecil di daerah-daerah khususnya Cirebon, tentu tak bisa dilepaskan dari peristiwa Reformasi 1998. Tumbangnya Orde Baru sebagai konsekuensi politik saat itu, memicu terjadinya perubahan yang radikal dalam segala bidang, tak terkecuali bidang informasi.

Sejak saat itu lah, reformasi seolah-olah membidani lahirnya industri media hingga ke pelosok-pelosok daerah.

Namun yang disayangkan, imbuh Dadang, munculnya kompetisi industri media pasca-reformasi, tak sejurus dengan persaingan kualitas dan pembaharuan media khususnya di Cirebon.

“Dari segi kualitas dan pembaharuan tak bisa diharapkan, karena saat itu persaingan media hanya berkutat pada oplah-modal. Sedangkan dari kualitas pemberitaan justru mengalami kemunduran,” tegasnya.

Hal tersebut diperparah saat era digital muncul beberapa tahun belakangan ini. Makin banyaknya media-media online yang turut ambil peran dalam dunia Jurnalistik di Cirebon, justru membuat kualitas pemberitaan makin mengalami kemunduran.

“Mengatasnamakan kecepatan, media-media hari ini kerap melakukan kesalahan yang cukup fatal. Seperti melupakan fungsinya sebagai agen edukasi, informasi, dan agen infulence. Justru yang kuat hari ini hanya fungsi hiburannya saja,” terangnya.

Secara garis besar, 40 tahun sejak kemunculan PR edisi hingga sekarang, dinamika sejarah media di kota Cirebon secara kualitas mengalami kemunduran. Tentu ada banyak faktor yang melatarbelakanginya, beberapanya yakni kurangnya kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) termasuk buruknya sistem perekrutan wartawan oleh perusahaan media, ditambah tingginya persaingan antara industri media saat ini.

Kilas Balik Pers Cirebon

Guna membahas tema tersebut, melalui program rutin mingguan Kaji Media yang ke-8 kalinya, Komunitas JagaJari akan mengundang empat pembicara yang berlatar belakang sebagai wartawan dan penulis yang mewakili generasinya masing-masing, yakni Nurdin M. Noer yang merupakan wartawan era 1990, Khaerudin Imawan mewakili generasi 2000, Erika Lia tahun 2010, dan Dadang Kusnandar penulis lepas sekaligus saksi sejarah dari perjalanan media di Cirebon.

Diskusi tersebut akan dilaksanakan sore ini, Jumat (05/11) di Saung Perjuangan Depan Kampus IAIN Syekh Nurjati Cirebon pukul 19.30-21.00 WIB. Diskusi tersebut juga akan dipandu oleh moderator , Mohammad Syahri Romdhon. []

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed