oleh

Jagakali International Art Festival Klaim Menjadi Obat Penyembuh Sungai-sungai di Indonesia

Citrust.id – Sinau Art gandeng 195 komunitas untuk gelar Jagakali International Art Festival#7 2018. Adapun tema yang diusung dalam festival tersebut ialah TAMBA dalam bahasa Cirebon yang memiliki arti mengobati dalam bahasa Indonesia.

CEO Festival Jagakali Art, Nico Broer Permadi mengatakan, di balik tema TAMBA yang memiliki bentuk menyerupai ular naga dengan ekor menempel ke kepala ini mempunyai filosofi bahwa ular ketika sakit ia akan mengobati dirinya sendiri dengan cara menempelkan ekor ke kepala.

“Sama halnya dengan sungai yang ada di Indonesia. Sungai-sungai ini sekarang sedang sakit, lalu harus bagaimana? Ya diobati. Diobati oleh siapa? Ya siapa lagi kalau bukan kita?” ungkap Nico kepada citrust.id saat ditemui di Kali Pacit, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, Jumat (19/10/2018).

Menurut Nico, kelestarian alam, dalam hal ini ialah sungai, sangatlah perlu untuk diperhatikan. Sebagaimana diketahui, air merupakan sumber utama kehidupan manusia.

Rangkaian acara dalam festival yang diadakan selama 3 hari ini di antaranya, lomba menggambar, pesta tari pitu, seni silat, angklung sabda pesona, musikalisasi, riverside yoga, flashmob, rolling sepeda onthel, workshop sablon, workshop pantomim, workshop public speaking.

Dalam kegiatan festival Jagakali, pihaknya mengajak para pengunjung untuk ikut andil dalam membersihkan lingkungan. Tampak mulai dari anak-anak hingga orang dewasa bersuka cita dan saling membaur satu sama lain memungut sampah-sampah yang ada di sekitaran kali setempat.

Selain itu, terdapat pula di pinggiran sungai sebuah mading yang diberi nama Ladang Pahala. Terlihat setiap pengunjung yang hadir membumbui mading tersebut dengan kertas warna-warni bertuliskan serangkaian ungkapan. Hal ini menjadi bukti bahwa masih banyak masyarakat yang peduli akan kelestarian lingkungan.

“Harapan kita tidak muluk-muluk. Kita ingin minimal sungai di sekitaran kita menjadi sehat dan bersih. Mungkin virus ini bisa disebar luaskan ke masyarakat di lingkungan sungai lainnya agar tercipta sungai Indonesia yang indah,” katanya.

Sementara itu, Anwar salah satu pengunjung sekaligus mahasiswa pencinta alam mengungkapkan apresiasi atas terselenggaranya festival tersebut. Dirinya terharu sekaligus bangga melihat antusiasme para aktivis-aktivis dalam menjaga kelestarian lingkungan.

“Mereka tampak senang, padahal mereka disuruh bersih-bersih bukan liburan. Bahkan ada juga yang sampai nyemplung membersihkan dedauan yang jatuh ke sungai,” tandasnya./dhika

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed