oleh

Jaga Spirit 212, Ratusan Warga Majalengka Gelar Pengajian

Citrust.id – Aksi Bela Tauhid 212 adalah momentum bersatunya umat Islam di Indonesia. Meskipun yang datang dari berbagai pelosok, namun semuanya bersatu dalam pemikiran atau ide dan perasaan yang sama disatukan Tauhid (Islam).

Salah satu penyebab dorongan mereka untuk hadir karena pembakaran bendera Tauhid serta tidak tegaknya keadilan.

Demikian disampaikan Ustaz Agung Wisnu Wardhana dalam Kajian Majelis Khadimul Quran, Minggu (16/12/2018) di Masjid Baitul Dzikri Majalengka.

Acara kajian bulanan Majelis Khadimul Qu’an dengan tema “Menjaga Spirit 212” tersebut dihadiri ratusan umat Islam dari berbagai pelosok Majalengka.

Ustadz Agung menerangkan, aksi 212 sebagai momentum kebangkitan Islam. Di dalamnya terjadi proses peningkatan berpikir umat Islam agar hukum Allah ditegakan. Saat ini sedang diterapkan pemisahan agama dengan kehidupan atau mencampakan hukum Allah (sekulerisme). Padahal hukum Allah adalah hukum yang paling baik.

“Mari kita menjaga spirit 212. Menyebarkan semangat kepada yang lain agar hukum Allah segara tegak. Sosialisme sudah hancur. Saat ini kapitalisme sudah terlihat kerusakannya. Harapan semuanya adalah kepada Islam” katanya.

Sementara, aktivis PII yang juga alumni 212, KH Ilyas Dimyati, menyampaikan, meski dirinya sudah berumur 71 tahun namun tidak akan pernah berhenti berjuang agar syariat Islam atau hukum Allah tegak di bumi ini.

Menururtnya, saat ini ada pihak yang ingin memisahkan Islam dari kehidupan, termasuk memisahkan Islam dari politik. Aksi Bela Tauhid 212 menjadi spirit agar umat Islam berjuang menegakan syariat Islam.

“Selama Islam masih dikriminalisasi, selama Islam masih belum tegak, saya akan tetap berjuang untuk membela dan menegakan hukum Allah” kata Ilyas Dimyati yang disambut pekik takbir jemaah.

Perwakilan alumni 212 dari Majalengka, Diding Hermawan, mengatakan, meskipun banyak pihak yang menghalangi masyarakat Majalengka tidak mengikuti aksi Bela Tauhid 212, namun ribuan masyarakat Majalengka tetap berangkat ke Jakarta.

Beberapa bentuk halangan tersebut misalnya himbauan dari pihak berwenang agar PO BUS di Majalengka tidak mengangkut masyarakat yang akan berangkat ke Jakarta. Selain itu, ada pihak yang mengkoordinir video yang isinya menghimbau masyarakat Majalengka tidak berangkat ke Jakarta.

“Meskipun itu semua dilakukan, masyarakat tetap berangkat ke Jakarta dengan caranya masing-masing karena panggilan untuk membela Tauhid,” tegasnya. (Abduh)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed