oleh

Inilah Cerita Jalur Distribusi Jeruk Medan hingga Menyasar Pasar Majalengka

Citrust.id – Tidak banyak yang tahu lika-liku suka duka pedagang buah-buahan di pasar tradisional yang berjuang menyambung hidup untuk keluarganya.

Kisah suka-duka pedagang buah-buahan di pasar tradisional Talaga Kabupaten Majalengka seperti diceritakan oleh Agus (25) seorang Pemuda asal sebuah desa di lereng Gunung Ciremai yang sangat subur dimana desanya menjadi sentra sayuran di Majalengka, seperti kol, cabe merah, cabe rawit, kentang, bawang daun dan lain sebagainya.

Namun Agus memilih jalan berbeda dengan para pemuda di desanya yang mayoritas menjadi petani dengan menjadi pedagang buah-buahan di Pasar tradisional Talaga Kabupaten Majalengka mengikuti jejak langkah kedua orang tuanya.

“Seperti orangtua saya. Saya memilih menjadi pedagang buah -buahan, meskipun tanah di desa saya sangat subur, “ungkap Agus mengawali perbincangan ringan sambil melayani pembeli, Selasa (25/09/2018).

Seperti pedagang buah lainnya, Agus mengaku mendapat pasokan buah -buahan dari Pasar Induk Caringin Bandung baik buah impor maupun lokal seperti jeruk, Apel, Buah Naga, Melon. anggur dan lain -lain.¬†“Namun ada juga dari daerah sekitar seperti Alpukat atau salak dari daerah Banjar, Ciamis, “ungkap Agus.

Sebetulnya tidak ada pengalaman yang aneh dan unik sebagai pedagang buah-buahan, namun Agus mengungkapkan sebuah pengalaman rantai distribusi buah-buahan yang cukup menarik untuk disimak.

Agus mengungkapkan bahwa Jeruk yang dijualnya di pasar Talaga merupakan Jeruk Brastagi yang didatangkan langsung dari Medan Sumatera Utara.

“Butuh tiga hari perjalanan Jeruk dari Medan sampai Pasar Caringin Bandung kemudian ke Majalengka, makanya tidak aneh ketika Jeruk di Medan masih berwarna Hijau sampai Majalengka sudah berwarna kuning oranye atau kalau lagi apes busuk semua, ” ungkap Agus.

Agus mengungkapkan rantai distribusi Jeruk dari Medan sampai Pasar Caringin Bandung diangkut menggunakan truk kontainer dengan biaya perjalanan termasuk bensin/solar, ongkos penyebrangan Bakauheni -Merak dan lain -lain mencapai Rp 9 juta sekali jalan.

“Belum resiko kecelakaaan karena Sopir truk mengebut mengejar kapal penyebrangan, karena telat setengah jam saja harus menunggu kapal penyebrangan berikutnya dengan resiko Jeruk yang diangkut busuk tentu akan rugi besar,” ungkap Agus.

Agus mengungkapkan diawal bulan puasa Ramadhan ini Jeruk lagi jarang di Medan sehingga harga Jeruk mencapai Rp. 25 ribu per kilogram. Agus mengungkapkan harga Jeruk Rp 25 ribu/kg itu di Medan sebagai sentra Jeruk hanya Rp sekitar Rp 9-10 ribu/kg dan sampai di pulau Jawa di Bandung sekitar Rp 15-20 ribu/kg.

“Di Pasar Talaga Majalengka kita menjual sekitar Rp 25 ribu/kg karena dari Bandung kesini pakai ongkos kirim lagi kecuali di Medan nya sedang musim panen, harga jeruk disana cuma Rp 5-6 ribu/kg sampai ke pulau Jawa tentunya lebih murah lagi,”ungkap dia.

Agus berharap dengan adanya Bandara Internasional Jawa Barat di Kecamatan Kertajati Kabupaten Majalengka warga Majalengka dapat menikmati manisnya Jeruk Brastagi Medan ketika masih segar karena dengan pesawat waktu tempuh pengiriman kargo Kertajati -Medan hanya hitungan jam tidak tiga hari seperti perjalanan darat. /Abduh

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed