oleh

Ingat Waktu Ingat Diri

Oleh Dadang Kusnandar

Jama`ah Pengajian Kang Tejo Ibnu Pakar DEWA Kronos menelan bumi. Konon mitologi Yunani mengisahkan Kronos merupakan anak dari Uranus dewa langit dan Gaia dewi bumi. Ia mengambil alih kekuasaan ayahnya namun sang ayah mengutuk bahwa ia akan dikudeta pula oleh anaknya kelak, sesuai dengan kutukan Uranus. Dan itu

terbukti manakala Zeus telah dewasa.Mitologi ini mengisahkan pergantian kepemimpinan yang identik dengan waktu. Waktu terus berjalanmeninggalkan siapa saja yang masih duduk-duduk bersantai sambil berpangku tangan, ia masihterus bergulir bersama mereka yang selalu meneteskan keringatnya menempuh jauhperjalanan. Bersama mereka yang selalu kokoh tegar menghadapi derasnya arus kehidupa.

Dan ia jauh pergi bersama para pemuja Rabb-nya, siang dan malam dalam keadaan sunyi maupun ramai, ketika lapang atau ketakutan. Detik-detik yang terkumpul menjadi menit, kemudian menjadi jam, pecah menjadi bulan, tahun, windu dan abad.

Tak terasa sudah begitu lama semesta yang luar biasa ini diciptakan. Sudah sekian lama kita menerima amanah sebagai pengelola bumi, dan sudah terlampau lama cerita kehidupan bergulir, berganti judul, berganti tokoh, tanpa pernah berganti pengarang dan penulisnya. Ada yang cerita kehidupannya mengalir indah, halaman-halaman berikutnya selalu dinanti pembaca, namun ada pula sebaliknya, cerita kehidupannya sangat membosankan, pembacanya pun seolah ingin segera mengakhiri.

Saat ini seperti satu tahun yang lalu, waktu telah berlalu meninggalkan kita. Itu berarti bahwa kesempatan untuk menabung amal telah lewat pula. Jika ada banyak kebaikan yang telah tergapai, maka tidak sedikit pula kita telah keliru melangkah, bahkan jatuh ke dalam labirin kesalahan.

Barangkali itu adalah kesalahan baru bagi kita, tetapi tak jarang itu merupakan kesalahan lama yang mestinya tidak boleh terjadi lagi. Untuk kebaikan yang telah tercapai, kita mohonkan istiqomah kepada Rabb yang maha kuasa, "Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami dalam ketaatan di atas agama-Mu" (HR Tirmidzi No. 3522)

Tidak terasa Ramadhan akan kembali datang pada kehidupan kaum muslim. Dalam perhitungan hisab haqiqi wujudul hilal yang dipedomani oleh Muhammadiyah, disebutkan bahwa ijtimak jelang Ramadhan terjadi pada hari Jum’at, 26 Mei 2017 M pukul 02:46:53 WIB. Tinggi Bulan pada saat terbenam Matahari, di Yogyakarta = +08 derajat 01’ 58’ (hilal sudah wujud).

Dan di seluruh wilayah Indonesia, pada saat terbenam Matahari itu, posisi rembulan atau bulan sabit  berada di atas ufuk. Sehingga 1 Ramadhan 1438 H jatuh pada hari Sabtu, 27 Mei 2017 M. Dan menurut hasil isbath ulama Nahdathul Ulama (NU) 1 Ramadhan 1438 H pun dimulai pada Sabtu, 27 Mei 2017.

Waktu jadi penanda kehidupan. Betapa pergerakan maha dahsyat itu kadang tak tampak lantaran ia bergulir begitu cepat. Bahkan pandangan semu kerap menipu kita, ujar Kang Tejo Ibnu Pakar (Pembimbing Kitab Iqodz Al Himam fi Syarah Al Hikam). Katanya, “Jangan kalian anggap gunung dan bukit itu berhenti. Ia bergerak begitu cepat, dan saking cepatnya maka gerak gunung dan bukit tidak terlihat dan tidak terasa oleh kita”.

Kita mungkin saja teringat pada pelajaran Fisika ketika sekolah. Pada praktikum sederhana, sebuah kaleng susu bekas yang dilubangi bagian bawahnya dan diikat seutas tali. Kaleng itu diisi air sampai penuh lalu diputar melingkar. Maka air di dalam kaleng tersebut tidak tumpah. Guru sekolah saya berkata, “Anak-anakku inilah perumpaan gerak air laut. Bergerak sama cepatnya bersama gerak bumi”.

Pengguna Waktu Pembaca budiman tidak terasa perjalanan kita di bumi semakin berkurang. Waktu sebagai penanda sangat kita sadari keberadaannya. Rintangan pada perjalanan itu telah menempa dan memperkuat manusia untuk menjadi insan yang diperhitungkan.

Tentu tidak salah apabila suatu waktu kita bertanya pada diri sendiri, apa sajakah kebaikan yang telah kita lakukan untuk memperindah perjalanan kita selama ini. Sebaliknya kita pun menanyakan kepada diri sendiri, apa sajakah kejahatan yang kita lakukan sepanjang menjadi pengguna waktu.

Kita tentu saja harus berperilaku bijak kepada waktu untuk terus memperindah cahaya (ahlak mulia). Berbalik diametral dengannya, manakala waktu tersia-sia hanya untuk kesenangan yang bersifat sementara, tak urung kita terjerembab melakoni perilaku kejahatan atas waktu serba sedikit yang telah diberikan Allah swt.

Bahwa menjadi wakil ilahi di muka bumi sama dan sebanding menyediakan diri untuk menggunakan waktu sesuai dengan ketentuan Sang Pemilik Waktu. Jika demikian pergantian waktu yang begitu cepat justru merupakan stimulan agar selalu berperilaku bijak pada kehidupan. Ingatlah waktu hidup kita yang sejenak di atas muka bumi ini akan diambil oleh pemiliknya. Tanpa pemberitahuan, kecuali bagi orang-orang yang dicintai atas ridlo-Nya.

Apabila salah menggunakan waktu, apabila kerap menampilkan keburukan (bahkan) dengan kemasan kebaikan, akan tiba saatnya bagi waktu untuk menghukum atas perbuatannya. Itu sebabnya menjaga waktu, secara menerapkan sikap Rasulullah Muhammad saw dalam segala hal merupakan wujud nyata pengguna waktu. Diri kita sebagai “rumah kebajikan” mestinya

menyemangati siapa pun agar senantiasa berperilaku utama dan baik. Berkaca pada beberapa hal krusial menyangkut kesalahan kita akan penggunaan waktu, mari kita ke depankan moral dan etika yang bermula dari kesadaran tauhid yang tangguh.*

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed