oleh

Ibu

aitrades

Oleh DADANG KUSNANDAR*

SETIAP kita lahir dari rahim ibunda. Puluhan ribu anak tiap hari lahir. Ibunda yang merasakan betapa sakitnya proses melahirkan. Ibu, bunda, mama, mamam, mamah, emak, mom serta sebutan lain adalah penghormatan. Bukan cuma silsilah yang membedakan anak dengan orang tua.

Penghargaan, penghormatan, bakti seorang anak kepada bunda merupakan hal tak terelak. Setiap kita melakukan bakti itu. Jika ada anak yang tidak menempatkan bunda secara istimewa, agaknya jumlah mereka tidak sebanding dengan yang memperlakukan bunda secara baik. Anak dan bunda, pertalian kasih tiada putus, sepanjang hayat di kandung badan.

Seorang teman membagi sebuah video pendek tentang anak dan bunda. Video produk Korea itu menyuguhkan beberapa adegan pendek tentang penilaian. Ibu menilai anaknya sendiri yang berusia 3 (tiga) tahun. Anak menilai ibu. Cerdas sekali sang sutradara mengaduk emosi sejumlah ibu-ibu muda, pemeran skuel video berdurasi tiga menit lebih sedikit itu.

Empat ibu muda diminta menjawab pertanyaan, “Apa yang paling memusingkan dari anakmu?”. Jawaban ibu-ibu muda antara lain, anaknya jorok tak kenal kebersihan. Ada yang menjawab susah makan, sering menangis, tidak suka sayur. Empat ibu muda itu diminta menilai anaknya dengan catatan angka 10 maksimal. Nilai empat ibu untuk anaknya ialah: lima, delapan, tujuh, delapan.

Sutradara mengalihkan kameranya. Kini giliran anak yang menilai ibunya sendiri. Jawaban anak-anak mengagetkan dan membuat ibunya terharu hinģga menitikkan air mata. Ada anak yang senang dicium ibunya, ada yang takut melihat ibunya menjadi tua, ada yang senang dengan kulit halus ibunya saat menyentuh. Dan ada yang senang bepergian dengan ibunya. Yang mengejutkan keempat anak itu memberi nilai 10 untuk ibunya masing-masing.

Video motivasi ini cukup inspiratif menyangkut hubungan ibu dan anak. Kepada ibu ditanyakan apa yang menyebalkan dari anak, sementara kepada anak ditanyakan apa yang menyenangkan dari ibunya.

Kadang kita sebagai orang tua yang mengaku telah makan asam garam kehidupan, tanpa terasa lebih suka melihat sisi buruk anak. Celakanya (sebagaimana tampil pada video kiriman itu), ibu-ibu muda dan cantik dengan ekspresi datar memaparkan hal yang menyebalkan tentang anaknya yang berusia 3 (tiga) tahun.

22 Desember yang ditetapkan sebagai Hari Ibu di Indonesia merupakan sejarah panjang dari pendopo Dalem Jayadipuran milik Raden Tumenggung Joyodipoero, ķetika ratusan orang berkumpul. Acara resepsi dimulai sejak pukul tujuh malam, dimulai dengan nyanyian penghormatan dari anak-anak untuk para tamu. Tanggal dan hari itu, Sabtu 22 Desember 1948.

Meminjam tirto.id, para tamu juga disuguhi drama tanpa suara tentang cerita Dewi Sinta membakar diri, Srikandi, dan Perikatan Istri Indonesia. Dari pukul sembilan hingga sebelas malam, para tamu saling berkenalan. Tiap utusan diberi kesempatan untuk mengurai problem perkumpulannya. Begitu yang dicatat Susan Blackburn dalam Kongres Perempuan Pertama.
Kongres ini dihadiri juga wakil-wakil dari perkumpulannya Boedi Oetomo, PNI, Pemuda Indonesia, PSI, Walfadjri, Jong Java, Jong Madoera, Muhammadiyah, dan Jong Islamieten Bond. Tokoh-tokoh populer yang datang antara lain Mr. Singgih dan Dr. Soepomo dari Boedi Oetomo, Mr. Soejoedi (PNI), Soekiman Wirjosandjojo (Sarekat Islam), A.D. Haani (Walfadjri).
Hampir 70 tahun peristiwa bersejarah tentang ibu/ perempuan Indonesia berlalu. Perjalanan panjang itu setidaknya menjelaskan betapa pentingnya ibu bagi anak-anaknya sendiri. Ibu yang tidak sekadar melahirkan atau meneruskan jejak sejarah keluarga. Ibu yang bukan hanya menurunkan anak-anak ke dunia. Melainkan ibu yang sekuat daya memberikan kasih sayang serta penilaian yang baik tentang anak-anaknya sendiri.

Selamat Hari Ibu. Selamat menilai kembali keluarga yang telah dibangun bersama suami. []

*Penulis lepas, tinggal di Cirebon.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed