oleh

Ezri dan Rini

Oleh DADANG KUSNANDAR*

PERNIKAHAN merupakan hak setiap orang. Siapa pun bebas menikah dengan pasangan pilihannya. Tidak ada diskriminasi dan pengelompokkan tertentu menyangkut etnisitas atau status sosial.

Agaknya begitulah semestinya tata pergaulan masyarakat dunia. Pernikahan warga dunia dengan status dua kewarganegaraan bukan kisah asing lagi di Indonesia. Satu diantara mereka adalah Ezri dan Rini. Ezri warga negara New Zeland sedangkan Rini gadis Wonogiri Jawa Tengah.

Jalinan cinta keduanya konon lebih intens dilakoni melalui media sosial. Perkenalan yang singkat di Bali pada Agustus 2017 lalu berlanjut dengan berpacaran ala hp hingga akhirnya menikah pada akhir Januari 2018. Luar biasa perjuangan mereka. Ini layak diacungi jempol. Bahwa untuk mewujudkan impian pasti menempuh cobaan yang tidak kecil.

Akan tetapi di dunia yang multipersonal ini, ada saja yang tidak sependapat atas pernikahan Ezri dan Rini. Malah ketidaksukaan itu ditulis melalui media sosial. Seakan menyayangkan Ezri yang berwajah tampan dan berstatus manager perusahaan swasta menikahi gadis kampung yang lulusan SMP dan berstatus baby siter di Jakarta.

Keberuntungan tidak dapat ditolak, seperti juga kemalangan. Jika saat ini Rini dan Ezri tengah mengalami keberuntungan, sebaiknyalah kita jangan menilai secara subjektif, terlebih lagi menuliskan ketidaksenangan atas keberuntungan orang lain melalui media sosial.

Sebaiknyalah kita berprasangka baik kepada Ezri dan lelaki bule asal negara mana pun yang menginginkan tinggal di Indonesia. Semoga pernikahan kalian dengan perempuan Indonesia bukan semata-mata jalan pintas guna memperoleh status kewarganegaraan Indonesia. Karena sebagaimana kerap tersiar kabar, lelaki bule yang menikah dengan gadis Indonesia, berkepentingan untuk melangsungkan bisnis mereka. Kejelasan status kewarganegaraan Indonesia jauh lebih penting dibanding pernikahan itu sendiri. Bali sebagai nusawisata yang terbuka memungkinkan berlangsungnya cinta kilat lalu terjadi perpindahan agama dan tidak berselang lama terjadi pernikahan.

Tidak sedikit kisah cinta kilat yang berakhir tragis. Sang bule lelaki menelantarkan istri dan anaknya. Anak istrinya di Bali tidak memperoleh harta apa pun lantaran sang suami dengan status WNI bisa berbisnis ke mancanegara. Ia tidak lagi butuh perempuan yang dikenalnya mula pertama di lokasi wisata Pulau Dewata dengan paspor kunjungan wisata. []

*Kolomnis, tinggal di Cirebon.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed