oleh

Debat Soal Peningkatan PAD, Paslon OKE Kritisi Konsep “Smart City”

Citrust.id – Debat publik perdana pasangan calon walikota dan wakil wali Kota Cirebon, Bamunas Setiawan Boediman-Effendi Edo (OKE) dan Nasrudin Azis-Eti Herawati (PASTI) di segmen ketiga membahas tentang konsep atau strategi bisnis untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), terutama imbas dibukanya Tol Cipali.

Debat publik yang digelar KPU Kota Cirebon di Swiss Belhotel, Kamis (19/04), di segmen ketiga yakni menjawab dua pertanyaan yang telah disediakan di amplop tertutup. Masing-masing paslon mengambil amplop pertanyaan itu dan dibacakan oleh moderator dan kedua paslon bisa saling menanggapi. Waktu yang diberikan bagi masing-masing paslon untuk menjawab pertanyaan itu adalah 90 detik.

Di segmen ini, Paslon nomor urut 1 mendapat pertanyaan terkait peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), terutama imbas dibukanya Tol Cipali yang dijawab oleh Effendi Edo.

“Beroperasinya Tol Cipali memberikan dampak positif bagi Kota Cirebon. Untuk itu, infrastruktur di Kota Cirebon harus dibenahi. Selain membuka pintu bagi investor, Kota Cirebon juga harus mengoptimalkan potensi yang ada,” jawab Edo.

Menambahkan jawaban Edo, Oki mengatakan bahwa dirinya akan memperjuangkan exit atau akses keluar dari Tol Cipali langsung ke Kota Cirebon.

Jawaban lain diutarakan oleh Duet PASTI yang disampaikan Calon Walikota Nasrudin Azis.

“Selain dalam hal manfaat, seharusnya ada antipasi dampak lain dari arus pariwisata ke Kota Cirebon akibat dibukanya Tol Cipali. Hal itu untuk menjaga kearifan lokal,” terangnya.

Setelah itu, giliran paslon PASTI yang diberi pertanyaan, yakni terkait strategi dalam melakukan seleksi jabatan pemerintahan untuk mewujudkan Pemerintah Daerah Kota Cirebon, Gemah Ripah Loh Jinawih. PASTI juga diminta tanggapan tentang open recruitment.

“Dalam menentukan jabatan harus mengacu pada dasar-dasar yang sudah ada, seperti berpedoman pada Undang-Undang ASN,” jawab Azis.

Dirinya telah membuka kesempatan bagi semua PNS yang memiliki kemampuan untuk mengisi jabatan melalui open biding.

“Kami sangat setuju dengan pola open biding dalam menentukan jabatan struktural PNS,” tegas Azis.

Mendengar Jawaban tersebut, Paslon OKE yang disampaikan Edo memberikan tanggapan.

“Pada kenyataannya tidak sesuai dengan yang dikatakan paslon nomor urut dua. Banyak pejabat di Kota Cirebon yang dipilih tanpa melalui proses semestinya,” tanggap Edo.

Di sesi berikutnya, Paslon OKE mendapat pertanyaan terkait komitmen terhadap penegakan hukum, khususnya terhadap peraturan daerah.

“Pemerintah daerah harus menguatkan kerjasama dengan lembaga penegak hukum seperti kejaksaan dan kepolisian. Kita adalah negara hukum dan harus taat kepada hukum,” jawab Oki.

Edo menambahkan, selain itu, kepala daerah harus berkomitmen dengan produk-produk hukum yang dibuat pemerintahannya sendiri.

Menanggapi jawaban tersebut, Duet PASTI meresponsnya dengan mengkritisi jawaban Paslon OKE yang dinilai tidak menjawab pertanyaan sama sekali.

“Menurut hemat saya, jawaban yang disampaikan paslon nomor urut 1 belum menjawab pertanyaan moderator. Langkah pertama agar masyarakat Kota Cirebon taat hukum adalah kepala daerah memberikan edukasi dan pemahaman hukum. Tidak jarang terjadi pelanggaran hukum yang disebabkan ketidakpahaman masyarakat terhadap produk hukum,” tanggap Azis.

Dengan diberikan pemahaman tentang hukum, lanjut Azis, masyarakat akan patuh terhadap hukum. Pembangunan dalam bidang teknologi saat ini dititikberatkan pada pembangunan ekonomi digital, big data dan robotik.

Di sesi ini pun Moderator Debat, Dr. Evie Ariadne Shinta Dewi, Dra, Mpd., Lektor Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung, bertanya kepada PASTI tentang sektor yang jadi prioritas pembangunan dalam bidang teknologi Kota Cirebon.

Azis menjawab, sektor yang diprioritaskan untuk mendapatkan dukungan teknologi yakni sektor yang memberikan pelayanan dasar bagi masyarakat, seperti sektor kesehatan dan pendidikan.

Selain itu, lanjut Azis, Kota Cirebon sudah menerapkan Smart City yakni pembangunan kota berbasis teknologi. Cirebon termasuk dari 25 kota se-Indonesia yang berhasil menerapkan konsep Smart City.

Jawaban tersebut ditanggapi sinis oleh paslon OKE, dengan menyebutkan bahwa Konsep Smart City belum mampu meningkatkan PAD.

“Seharusnya dengan pembangunan teknologi dapat meningkatkan PAD, seperti dari sektor perhotelan, rumah makan dan pelayanan satu atap. Tapi pembangunan berbasis teknologi di Kota Cirebon ini belum mampu meningkatkan PAD,” tukas Edo. /haris

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed