oleh

Buntet Pesantren

Oleh Suteja Ibnu Pakar

LEMBAGA pendidikan Pondok Pesantren Buntet umurnya cukup tua. Berdiri sejak abad ke 18, tepatnya tahun 1785 Masehi. Tokoh atau ulama yang pertama kali mendirikan pesantren Buntet adalah seorang Mufti Besar Kesultanan Cirebon bernama Kiyai Haji Muqoyyim (Mbah Muqoyyim). Kiyai Muqoyyim yang lahir kurang lebih tahun 1740 adalah putra dari Kiai Abdul Hadi. Kakeknya adalah salah seorang putra pangeran Cirebon dan ibunya bernama Anjosmoro bin Warbita Mangkunegara.  

Beliau adalah seorang pemuda yang sakti mandraguna, berpengetahuan Islam yang luas dan memiliki ilmu laduni. Dengan kesaktiannya kiyai Muqoyyim memenangkan sayembara membuat bendungan yang sangat kuat dalam waktu singkat. Hingga kini bendungan itu diberi nama “situpatok” dan kiyai Muqoyyim dinikahkan dengan putri keturunan pangeran Luwung yang bernama Nyi Ratu Randulawang (Nyi Pinang, karena melalui pinangan sayembara). Kiai Muqoyyim mempunyai keturunan: 1). Kiai Muhajir, 2). Nyi Sungeb, 3). Nyi Roisah, 4). Nyi Thoyibah dan 5). Nyi Kholifah.

Kiai Muqoyyim dianggap memiliki sikap non-kooperatif terhadap penjajah Belanda, sehingga lebih kerasan (betah) tinggal dan mengajar di tengah masyarakat ketimbang tinggal di Istana Kesultanan Cirebon. Rupanya, setelah merasa cocok bertempat tinggal di perkampungan dan memberikan dakwah keagamaan, akhirnya beliau mendirikan sebuah pondok pesantren yang cukup terkenal di Nusantara yang kemudian diberi nama Pondok Pesantren Buntet.

Kiyai Muqoyyim sangat kesal dan benci terhadap Belanda karena terus menindas, memeras dan menyengsarakan rakyat, beliau mencoba pergi ke bagian Timur Selatan Cirebon untuk mencari tanah perkampungan yang cocok dengan hatinya. Pencarian tanah ini untuk mencari tempat yang  strategis mengembangkan syiar Islam di tanah Cirebon. Di sinilah, tepatnya di kampung Kedungmalang desa Buntet Kecamatan Astana Japura, beliau mendirikan pesantren yang kemudian dikenal dengan Pesantren Buntet atau Buntet Pesantren.

Kiyai Muqoyyim pada mulanya hanya membangun rumah yang sangat sederhana, disertai dengan langgar dan beberapa bilik. Kemudian menggelar pengajian yang akhirnya banyak orang tahu dan ingin menjadi santrinya. Selain mengajarkan tentang agama Islam yang mendalam melalui kitab kuning, Kiai Muqoyyim juga mengajarkan kepada santri dan masyarakat sekitar pesantren ilmu tentang ketatanegaraan yang beliau peroleh dari selama tinggal di Keraton Kanoman.

Walaupun Kiyai Muqoyyim pergi meninggalkan Kesultanan Kanoman, tetapi pencarian Belanda akhirnya berhasilmenemukan Kiyai Muqoyyim. Diketahui bahwa beliau tengah mendirikan sebuah pesantren di Timur Selatan Cirebon. Persiapan untuk penyergapan dirapatkan dengan matang, karena Belanda tahu bahwa Kiyai Muqoyyim adalah seorang kiai yang mempunyai kesaktian yang tinggi sehingga tidak dapat diremehkan.

Menghindari sergapan Belanda yang terus menerus mencarinya, kiyai Muqoyyim kemudian mengembara ke beberapa tempat dan di tempat pengembaraan, beliaupun mendirikan juga pondok pesantren, diantaranya di Sindanglaut dan di Pemalang.

Setelah di Cirebon kondisinya aman Kiyai Muqoyyim kembali menata pondok pesantren Buntet sampai akhirnya wafat dan dimakamkan di Sindanglaut berdekatan dengan Ki Ardi, yang merupakan teman seperjuangan dan juga sebagai adik ipar Kiyai Muqoyyim.

Pondok pesantren yang didirikan kyai Muqoyyim ini lebih terkenal sebagai pondok pesantren Buntet, padahal lokasinya berada di wilayah Desa Mertapada Kulon. Kenapa pesantren ini dinamai Pondok Pesantren Buntet? Berdasarkan penuturan KH. Shobih adalah: kata “buntet” yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan Buntet Pesantren, “wilayah kekuasaannya” meliputi Desa Buntet, Desa Mertapada Kulon, Desa Sida Mulya dan Desa Munjul. Karena itu, Desa Buntet merupakan bagian dari “wilayah kekuasaan” Buntet Pesantren. Adapun Pesantren Buntet yang ada di Desa Mertapada Kulon, adalah lembaga pendidikan Islam yang bernama “buntet”. Mengapa demikian, karena nama “buntet” lebih dulu ada jika dibandingkan dengan nama-nama desa yang ada di lingkungan Pondok Pesantren Buntet (Suteja, 2010:11).

Bahkan berdasarkan beberapa informasi menuturkan bahwa tokoh yang mendirikan desa-desa di lingkungan Pondok Pesantren Buntet adalah, para kiyai dan keluarga Pondok Pesantren Buntet yang memiliki komitmen untuk memajukan wilayahnya. []

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed