oleh

Bulan Bahasa

Catatan Dadang Kusnandar

Sejak ditetapkan oleh Presiden Soeharto bahwa Oktober merupakan Bulan Bahasa maka biasanya, kalangan akademisi, penggiat bahasa, pemerhati bahasa, serta orang-orang yang turut memfokuskan kegiatan dengan hal-hal kebahasaan memanfaatkan bulan ini sebagai ajang kegiatan kebahasaan.

Pada bulan ini, kegiatan seperti lomba menulis puisi, lomba menulis cerpen, lomba pidato, dan perlombaan lain yang berkenaan dengan bahasa diadakan untuk memperkenalkan kepada masyarakat mengenai adanya bulan bahasa dan sastra Indonesia.

Kegiatan tersebut tidak terbatas pada bahasa Indonesia belaka melainkan pula bahasa daerah. Bahasa daerah memeroleh porsi untuk terus dipertahankan kendati banyak kendala melingkupinya, terutama migrasi bahasa maupun “kreativitas” berbahasa seiring perkembangan zaman secara meracik ragam bahasa sesuai dengan selera generasi milenial. Kemunculan istilah (misalnya) baper, geys, dan sebagainya merupakan gejala kebahasaan saat ini.

Tak perlu menggerutu karena di awal tahun 1940-an istilah Bung pun masuk menjadi kosa kata bahasa Indonesia. Bung Karno, Bung Hatta, Bung Syahrir ~ diabadikan pada sajak Karawang-Bekasi karya Chairil Anwar. Masih banyak kosa kata baru yang merangsek masuk serta ingin diakui eksistensinya oleh pengguna bahasa Indonesia.

Gejala kebahasaan demikian memberi keleluasaan dan ruang gerak penggunaan bahasa secara dinamis. Memang ada risiko yang ditanggung, yakni peristilahan lama tergeser dan masyarakat cenderung lebih suka menggunakan kosa kata baru. Lihat saja, saat ini orang lebih kerap mengucapkan Nggak daripada Tidak.

Bila bahasa Indonesia saja mengalami “ancaman” kreativitas kosa kata baru, bagaimana halnya dengan bahasa daerah? Konon, sempat tersiar kabar puluhan bahasa daerah Indonesia telah punah meski saat ini jumlah bahasa daerah masih di atas 100. Artinya, bahasa daerah lebih rentan terdampak gejala kebahasaan dibanding bahasa Indobesia. Mungkin ini alasan pemerintah Propinsi Jawa Barat (cq. Pendidikan dan Kebudayaan) memasukkan pelajaran muatan lokal (mulok) Bahasa dan Sastra Sunda plus Bahasa dan Sastra Cirebon bagi siswa Sekolah Dasar.

Tentu saja aktivis kebahasaan berkehendak supaya bahasa daerah tetap tersemai di masyarakat lantaran hanya bahasa daerah yang memiliki tingkatan penggunaan kata. Ada etika berbahasa yang mengajarkan karakter dan penghormatan kepada orang lain. Akan tetapi, aktivis kebahasaan pun tidak serta merta mencibir “gerakan” bahasa alay.

Gerakan kebahasaan cukup penting disimak ulang mengingat di bulan Oktober, bahasa ditetapkan sebagai salah satu pilar pemersatu bangsa melalui peristiwa Sumpah Penuda. []

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed