oleh

Bukan Budak Teknologi

Catatan DADANG KUSNANDAR

SEMAKIN banyak informasi diterima semakin sadar bahwa kita tidak tahu apa-apa. Era big data saat ini kabarnya telah melampaui era digital. Pada era big data kekuatan ditentukan oleh seberapa besar kita memiliki data.

Akan tetapi semakin banyak data/ informasi semakin membuat malas meneliti detil data. Lihat saja tumpukan informasi yang saling tumpang tindih dan belum jelas kebenarannya setiap saat hadir ke hadapan kita. Masing-masing data/ informasi bagai memaksakan validasinya kepada penerima data. Bagi yang kagetan, ia akan menerimanya tanpa filtrasi. Dan supaya tampak tidak tertinggal informasi, ia langsung membagikan data tersebut melalui jasa media sosial.

Suatu saat seorang anak muda di Cirebon mengatakan dengan mantap, “Dunia ditentukan oleh instagram!”. Saya terhenyak tapi tak mampu menjawab lantaran bukan pengguna instagram. Sekuat apakah instagram mempengaruhi dunia? Pertanyaan yang patut dijawab oleh pengguna aktif instagram.

Pada saat lain kerap terlihat bapak-bapak usia 50-an begitu selesai melaksanakan shalat fardlu di mesjid, langsung membuka aplikasi whatsapp. Ia asyik dengan rangkaian pesan masuk di ponselnya kendati jamaah di sebelahnya asyik berdo’a. Bahkan sering terdengar bunyi/ dering ponsel ketika shalat berjamaah masih berlangsung.

Masih banyak contoh lain ketergantungan manusia atas telepon genggam. Dan ketergantungan itu diam-diam memosisikan ponsel sebagai referensi utama. Masalah apa pun tinggal tanya, tak lama kemudian jawaban muncul.

Era teknologi yang memudahkan pekerjaan sepatutnya memang disyukuri. Namun demikian ada saat tertentu kita melepaskan diri dari desakan teknologi. Bahwa tidak semua aktivitas ditentukan dari dan oleh teknologi seluler.

Itu sebabnya ketika seorang kawan di Pontianak Kalimantan Barat menulis di grup whatsapp, “Mong koment ah sedina”, saya tersenyum geli. Tak lama kemudian teman-teman segrup memancingnya untuk berkomentar dengan mengunggah obrolan lucu yang sehingga dia pun kembali berkomentar. “Wis sedina durung ya?”.

Kehadiran teknologi merupakan berkah tapi patut diyakini bahwa tidak seluruh pengguna teknologi mampu mengoperasionalkannya secara tepat guna. Semuanya kembali kepada kita dengan kesadaran penuh bahwa teknologi adalah buatan manusia. Artinya manusialah yang memperdayakan teknologi. Bukan teknologi yang memperdaya manusia. []

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed