oleh

Budayawan dan Sejarawan Majalengka Nyatakan Kerajaan Nunuk Tidak Pernah Ada

Citrust.id – Budayawan, sejarawan, dan sejumlah organisasi seni serta Grup Majalengka Baheula (Grumala) mempertanyakan adanya kerajaan Nunuk yang kini sedang diperingati desa tersebut ke-547 tahun. Keberadaan kerajaan harus diteliti terlebih dulu.

Disampaikan Budayawan dan Sejarawan Rachmat Iskandar, Tini Ombah, Ketua Dewan kesenian Majalengka, Kijun, Pendiri Grumala (pecinta Majalengka Baheula) Naro, Perwakilan Yayasan Talaga Manggung Teten Hilman mempertanyakan sejak kapan kerajaan Nunuk ada di wilayah Kabupaten Majalengka, karena berdasarkan hasil penelitian mereka bekas kerajaan hanya ada di Talaga, sedangkan Nunuk hanya sebuah desa di bawah Kerajaan Talaga.

“Berdasarkan data sementara ini tidak pernah ada kerajaan Nunuk, apalagi jika sekarang diperingati untuk ke 547 tahun,” kata Rachmat Iskandar, Rabu (28/11/2018).

Protes mereka dilakukan terkait adanya undangan kegiatan ulang tahun Desa Nunuk yang diterima mereka dengan mengagendakan sejumlah kegiatan di antaranya, guar bumi, pareresan, buku tahun, oening museum ratusan pusaka, lesung buhun 1 abad, baju adat khas kerajaan Nunuk, sepak bola api, tradisi nua (ngala lauk), pawai obor keraton, mensakralkan 60 makam keramat, parupuyan terbanyak, dan lain-lain .

“Selama ini belum pernah mendengar adanya kerajaan di Nunuk apalagi jika usianya sudah mencapai 547 tahun. Di tahun 1986, Emod, kuncen kampung Nunuk mengatakan setiap tahun ada acara ngumbah jimat di Talaga, dia selalu memabwa goong saketi dan air di ruas bambu. Menurutnya masyarakat Nunuk adalah bagian dari kebiharian Kerajaan Talaga,” ungkap Rachmat Iskandar,” papar dia.

Pada masa lalu rakyat Nunuk percaya ada kerajaan pertama Sigerhanjuang dengan raja terakhirnya Prabu Amuk Rasa bersamaan dengan luluhnya kerajaan Talaga digempur Mataram pada masa Sunan Puranata, pada saat tulah kerajaan Siger Hanjuang juga ikut hilang.

Namun, apakah benar ada kerajaan bernana Siger Hanjuang, menurt Rachmat, hal itu baru sebatas mitos yang hidup di masyarakat Nunuk. Tidak ada satupun mansukrip ataupun catatan Hindia Belanda tentang kerajaan Nunuk.

Karena hanya manuskrip kerajaan Talaga yang ada dan didukung oleh berbagai data baik catatan yang terdapat dalam kitab lama seperti cerita Parahiang, Negara Kertabumi ataupun yang terdapat pada T Dehhaan, jadi kerajaan Nunuk tidak pernah ada kecuali dalam mitologi masyarakat Nunuk.

“Saya tidak sependapat jika ada tahun kejadiannya atau tahun kehancurannya. Karena jika ada harus didukung oleh peninggalan masa lalu atau gienekaloginya atau silsilah. Tidak ada satupun yang merasa atau mengakui sebagai keturunan raja Nunuk,” ungkap Rachmat.

Kijun mengatakan, untuk menyebutkan adanya sebuah kerajaan harus dilakukan kajian dan penelitian terlebih dulu, dan pihaknya tidak ingin mengakui sebuah kesalahan dan kebohongan.

“Apa yang dilakukan panitia kegiatan ulang tahun Nunuk harus segera dihentikan. Jangan sampai kebohongan itu menjadi sebuah kebenaran,” kata Kijun.

Naro dari Grup Madjalengka Baheula yang selama ini meneliti peninggalan-peninggalan baheula menyebutkan belum menemukan adanya peninggalan kerajaan Nunuk.

Ketua Yayasan Talaga Manggung Teten mengatakan hal serupa perlunya pelurusan jangan sampai masyarakat dkbohongi.

“Senin kemarin ada kepala desa Nunuk datang ke Yayasan Talaga Manggung untuk meminjam benda pusaka untuk dibawa ke Nunuk sabil membawa proposal kegiatan, namun kami tidak menyerahkannya karena itu tidak boleh dibawa keluar dengan alasan apapun,” kata Teten.

Jika ada sejumlah keris dan benda lainnya yang di bawa ke Nunuk oleh Kepala Desa, itu adalah koleksi milik perorangan, bukan milik Yayasan Talaga Manggung.

Oleh karena itu, menurut mereka milangkala kerajaan Nunuk ke-547, adalah kebohongan besar yang haru segera diluruskan jangan sampai dianggap sebuah kenyataan. Apalagi kalau harus menyebutkan kalau raja pertama Nunuk adalah Hariang Bangga karena itu sejaman dengan Prabu Wanaran atau Ciungwanara.

Sementara itu sejumlah warga di Desa Nunuk sendiri mengatakan kekecewaanya terhadap kegiatan tersebut. Karena kegiatan tidak memiliki dampak baik bagi warga Nunuk, apalagi jika menyebut ada kerajaan dan obor kerajaan.

Edi tokoh pemuda Nunuk mengatakan banyak warga yang tidak menyetujui kegiatan tersebut namun seolah dipaksakan./abduh

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed