oleh

Batik dengan Ritual Khusus Dibanderol Ratusan Juta Rupiah

CIREBON (CT) – Ada banyak hal unik dari batik, dari hanya sebagai penanda budaya di lingkungan kerajaan atau keraton, hingga penggunaannya meluas di kalangan masyarakat umum.

Hal itu dikatakan pengusaha batik, M.Sultoni, Kamis (14/01). Ia menambahkan, dulu proses pembuatan batik terlebih dahulu harus melalui serangkaian ritual khusus. Seperti sang pembatik harus berpuasa dan membaca bacaan-bacaan tertentu. Ritual itu bertujuan untuk mengharapkan petunjuk atau inspirasi tentang motif atau gambar batik yang akan dibuat.

Proses pembuatan batik, yang disertai ritual khusus, sangat menguras energi lahir maupun batin bagi pembuatnya. Walau begitu, sebanding dengan hasilnya yang mengandung unsur seni atau aura yang tinggi.

Saat ini, pembuatan batik dengan proses tersebut hampir tidak dapat ditemui di kalangan masyarakat umum. Ritual macam itu sebelum membatik, terbatas di lingkungan kerajaan atau keraton. Hasilnya pun banyak dipesan oleh para raja atau pejabat tinggi, dalam negeri maupun luar negeri. Harganya pun cukup fantastis.

“Satu lembar batik yang dibuat dengan ritual khusus, harganya bisa mencapai ratusan juta,” kata Sultoni.

M. Sultoni melanjutkan, perkembangan zaman juga berpengaruh pada teknik pembuatan batik yang makin bervariasi. Dari cara pembuatan motifnya, batik yang beredar di masyarakat sekarang dibagi menjadi empat, yakni batik cap, tulis, kombinasi cetak dan tulis, serta batik printing. Batik cap adalah batik yang motifnya dibuat dengan bantuan semacam bantalan atau stempel yang telah berbentuk motif tertentu. Batik tulis dikerjakan manual atau handmade. Motifnya dibuat menggunakan alat canting. Jika menggunakan pewarna alami, maka tercipta aroma yang sangat khas.

Sedangkan batik printing dalam proses pengerjaannya secara massal menggunakan mesin. Teknik yang digunakan sama dengan industri tekstil pada umumnya.

Sultoni mengajak sesama pelaku usaha batik untuk tidak melulu melibatkan batik dalam upaya bisnis saja. Tetapi juga perlu adanya pemahaman atau edukasi tentang batik itu sendiri kepada masyarakat, khususnya customer. Misal memberikan informasi tentang arti motif batik dan teknik pembuatannya.

“Mari jadikan batik sebagai salah satu kekuatan budaya sekaligus pilar ekonomi rakyat,” pungkasnya. (Haris)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed