oleh

Atasi Kekeringan di Indramayu, Tidak Ada Gilir Giring Selama 7 Hari di 3 Kecamatan

Citrust.id – Penanggung Jawab Upaya Khusus Swasembada Padi, Jagung dan Kedelai (Upsus Pajale) Provinsi Jawa Barat usai meninjau irigasi langsung menggelar rapat koordinasi (Rakor) pengelolaan air di Pendopo Kabupaten Indramayu, Selasa (31/7) kemarin.

Agenda tersebut juga dihadiri oleh Wakil Bupati Indramayu, H. Supendi, Komandan Kodim 06/16, Letkol Kav Agung Nur Cahyono, serta instansi terkait Pemda yakni Kepala BBWS Cimanuk Cisanggarung, Kepala Dinas PSDA Kabupaten Indramayu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Indramayu, Direktur Irigasi Direktorat Jendral Prasarana dan Sarana Pertanian dan Kepala Bagian Umum Direktorat Jendral Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian.

Adapun hasil kesepakatan dalam rakor tersebut diantaranya, pengaturan air mulai Kecamatan Gabuswetan, Kandanghaur, dan Losarang akan di gelontorkan air tanpa gilir giring dalam waktu 7 hari mulai 01 Agustus 2018 dan diatur Kepala PSDA Indramayu, di prioritaskan untuk lahan sawah yang mengalami kekeringan atau kondisi menjelang puso.

Selain itu, pihak BBWS menjamin alokasi volume debit air dari Bendung Rentang berdasarkan kesepakatan sebelumnya di kantor BBWS Cimanuk-Cisanggarung (25 meterkubik perdetik) dan dialirkan ke saluran induk Sindupraja sebesar 33 meterkubik perdetik.

Dinas PUPR Indramayu, Dinas Pertanian Indramayu serta Kodim 0616 Indramayu siap melaksanakan pengawalan gilir giring air sesuai jadwal yang telah disepakati.

Dandim menugaskan Danramil untuk bertindak tegas terhadap oknum pencuri air, bila diperlukan langsung tangkap tangan.

Kemudian, Indonesia Asian Games Organizing Comittee (INASGOC) 2018 sepakat untuk mematuhi komitmen pengaturan air.

“Saya minta jangan sampai ada yang memanfaatkan kondisi ini, kita harus bersama support petani,” tegasnya

Menurut ketua Upsus Pajale Provinsi Jawa Barat, Banun Harpini,
seperti tahun lalu pihaknya bekerjasama dengan dua pemerintah daerah terdampak, dengan mengoptimalkan embung dan saluran irigasi untuk mengairi sawah yang mengalami kekeringan.

“Pemantapan langkah koordinasi ini diharapkan dapat memperkecil dampak cuaca ekstrim dan menjamin petani dapat tetap tanam dan panen, sehingga pasokan beras dari wilayah sentra utama di provinsi Jawa Barat ini dapat tetap dapat diandalkan,” pungkasnya. /didi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed