oleh

Asal Usul Majalengka (3)

Oleh: Drs. H. Rahmat Iskandar alias Rais Purwacarita
(Penulis adalah Sejarawan dan Budayawan sekaligus wartawan senior Majalengka)

PENGANTAR: (Guaran ngeunaan sajarah Majalengka urang laju deui, angger ngangge bahasa Malayu, malah mandar nonoman nu geus kaluli-luli kana basana sorangan, bisa milu ngimeutan kasang tukang lemburna, Dayeuh Majalengka, sangkan teu mereko teuing dina tanggal 7 juni , Hari Jadi Majalengka nu geus salah kaprah tea).

Friksi tentang kerajaan Pajajaran atau juga kerajaan Galuh belum pernah tuntas dibahas sejarah. Namun legenda atau tradisi lisan yang tumbuh di kalangan pemerhati carita rakyat bahwa sebetulnya setelah dilengserkan dari raja Galuh, Prabu Dewa Niskala justru mendirikan kerajaan tempat dia mabak mabak (membuka lahan baru) dengan istrinya, Dewi Lenggang Kamurang.

Istrinya inilah yang sebetulnya menjadi ihwal dilengserkannya Dewa Niskala. Dia keturunan Majapahit atau Wilwatika yang jadi pacaduan keturunan Sunda , bahwa karena marah kepada Hayam Wuruk, raja Majapahit, (peristiwa puputan di Bubat), Maka pangeran Suradipati, adik Dewa Ningrat Kancana (Sri Baduga) turun pacaduan, semua keturunan Galuh tidak boleh nikah dengan orang Majapahit. Dewa Niskala justru nikah dengan orang Wilwatika tersebut (lihat Nagara Ketragama dan Kidung Sunda).

Tidak ada petunjuk resmi mengenai keberadaan kerajaan Rajagaluh. Namun, kerajaan ini diakui Naskah Wangsakerta Carita Parahiyangan maupun buku Babad Tanah Sunda terjemahan PS Sulendraningrat, (Pustaka Caruban Nagari-1786) sebagai kerajaan yang tak mau tunduk ke Cirebon. Bahkan memilih perang habis-habisan yang hampir melumpuhkan seluruh kekuatan Demak dan Cirebon.

Beberapa prasasti, situs, menhir maupun naskah-naskah kuno yang tersisa di desa Bobos, Cipanas (Cirebon), di desa Kaduela, Padabeunghar (Kuningan) , Bantaragung, Talagaherang, Indrakila, Pajajar dan Garawastu, menuntun kita ke arah pembuktian sumber sekunder selemah apapun, tentang adanya suatu kerajajan yang keberadaannya masih diakui masyarakat setempat. Malah petunjuk itu menuntun kita bukan hanya pada Rajagaluh sebagai kerajaan kecil di bawah kekuasaan Pajajaran.

Namun lebih dari itu, masyarakat setempat yakin betul bahwa di sinilah sebetulnya pernah berdiri kerajaan Pasirbatang (Galuh Pasundan) yang kemudian berubah nama jadi Pajajaran. Sebuah kerajaan yang rajanya demikian dimitoskan rakyat Jawa Barat.

Keberadaan makam Prabu Haji atau Prabu Siliwangi di makam bukit Pasirbatang, Pajajar, senada dengan bunyi prasasti Huludayeuh yang ada di desa Bobos. Ada sebuah arca ganesha di desa Bantaragung yang menjadi ciri keberadaan Kerajaan Muaraberes (ketika pindah ke Bogor, nama ini menjadi nama desa di dekat kantor Pemda Bogor) . Seperti yang tersurat dalam Pantun Muaraberes yang naskahnya tersimpan pada seorang sesepuh di desa setempat. Di kampung Cipari (Garawasatu) dan Hutan Hoeloedayeuh (Bayureja) ada hutan Sirahdayeuh dan situs Kang Dingin ( yang permulaan) yang dipercaya sebagai huluwotan berdirinya kerajaan Galuh yang pertama.

Di Padabeunghar dan Kaduela ada patung Nyai Dayangsumbi yang dipercaya masyarakat setempat sebagai tokoh legenda Sangkuriang. Ada juga foklore mengenai matinya Patih kerajaan Pasirbatang yang bernama Menak Gerba (adik Lenggang Kamurang dari Jipang) oleh Raden Mundingwangi (Mundingsari Ageng). Demikian juga di desa Cipanas, ada naskah lama berupa pantun purwa, yang dimiliki Bapak Kajep. Yang menceritakan pertempuran antara Galuh dengan Cirebon di bukit Sapaterangga (Gunung Koromong dan sekitarnya).

Pada lontar kuncen Aki Kasih di Pajajar (Desa Pajajar Kecamatan Rajagaluh-red), memang terdapat secuil keterangan mengenai keberadaan Prabu Mundingwangi putra Prabu Anggalarang yang dianiaya patih Menak Gerba gara-gara Ki Patih tersebut jatuh cinta pada Nyi Lenggangkamurang, istri dari Prabu Anggalarang (Dewa Niskala). Konon, karena cintanya kepada Lenggangkamurang, setelah Prabu Anggalarang mangkat, Raden Mundingsari Ageng kemudian diculik oleh Nyai Kuntiwang, tukang sihir yang menjadi suruhannya.

Mundingsari Ageng selanjutnya diracun dengan getah 40 racun sehingga badannya melepuh, berborok dan bernanah. Untunglah dia cepat ditolong Resi Purwagalih dari Padepokan Dandaka (Sawala). Melalui perjuangan lama dan sulit, Mundingwangi akhirnya jadi raja di keraton Indrakila yang kemudian namanya berubah menjadi Pajajaran yang sekarang peninggalannya bernama desa Pajajar.

Setelah menikah dengan Dewi Mayangkaruna, putra Begawan Garasiang dari kerajaan Talaga, nama kerajaannyapun diganti menjadi Galuh berpusat di desa Sadomas, Rajagaluh. Putranya bernama Raden Parunggangsa yang setelah menikah dengan Ratu Sunyalarang, raja Talaga, menjadi ranggamantri (wedana) di Jerokaso, Talaga. Prabu Cakraningrat adalah raja Galuh terakhir sebagai salah satu keturunan Prabu Mundingwangi yang lain dan tewas dalam pertempuran melawan tentara Pakungwati yang dibantu Demak.

Prof.DR. Edi S Ekadjati dalam resume sejarah Kuningan menyebutkan bahwa Prabu Anggalarang adalah raja Kuningan, nama lain Prabu Dewa Niskala, ayahanda Prabu Siliwangi. Namun tidak secara eksplisit menyebutkan dimana letak kerajaan tersebut. Dewa Niskala sendiri adalah raja Galuh Pakwan yang diperkirakan berkedudukan di Karang Tawulan, Ciamis. Carita Parahyangan sargah 1 menjelaskan, Galuh sebelumnya berpusat di Medangjati, Kuningan. Pada masa pemerintahan Sang Wreti Kandhayun (Tanggal 14 paro terang bulan Caitra tahun 1514 Saka – Maret 612 M) pindah ke desa Karang Kamulan (Ciamis). Sehingga namanya berubah menjadi kerajaan Medang Kamulan.

Sedangkan nama Pasirbatang terdapat dalam berbagai pantun lama seperti Pantun Muaraberes, Pantun Lutung Kasarung, Legenda Sangkuriang, Legenda Ciungwanara. Prabu Tapa Ageung atau Prabu Permanadikusumah raja Pasirbatang yang dilanjutkan oleh , Guruminda (Prabu Minisri), Ciungwanara (Prabu Manarah) tercatat sebagai raja Sunda dalam Carita Parahyangan sargah 4. Bukti keberadaan kerajaan Medangkamulan , di Karang Kamulyan, Ciamis diperlihatkan dalam bentuk menhir yang belum diikuti pembuktian lain yang lebih kuat.

Mengenai Prabu Siliwangi itu sendiri merupakan mitos yang belum terjawabkan. Dr.Ayat Rohaedi (Byapara Purbatista-1995) memperkirakan , dia itu mungkin Niskalawastukancana ayah dari Dewa Niskala (Pustaka Rajya-rajya i bhumi Nusantara). Namun bisa juga Raden Pamanahrasa (Purwaka Caruban Nagari – Pangeran Carbon) dan Sri Baduga Maharaja ayah Prabu Niskalawastukancana yang meninggal di Bubat.

Jadi mungkin kitapun bisa menyebutkan bahwa Prabu Mundingwangi tersebut adalah Prabu Siliwangi yang selama ini dimitoskan rakyat Jawa Barat. Toh ada makam (patilasan) Prabu Haji atau Prabu Siliwangi di Pajajar. Nama Prabu Haji diakui beberapa prasasti di Bekasi dan Bobos. Karena Raden Pamanahrasa toh kawin dengan putri Nay Subanglarang, putri dari Ki Ageng Tapa, jaro labuhan Muarajati (Tom Pires, 1485 M).

Dalam Babad Tanah Sunda disebutkan, bahwa Rajagaluh adalah kerajaan kecil yang berada dibawah kekuasaan samrat Pajajaran. Sedangkan Kerajaan Talaga merupakan pucuk umum (kordinator wilayah) yang mengkordinir kerajaan-kerajaan kecil di wilayah barat. Termasuk Rajagaluh. Pada saat itu, walaupun di Cirebon ada kerajaan-kerajaan kecil seperti Cirebon Girang (Pantun Badak Pamalang) Indraprasta, Sing Apura atau Surantaka. Namun sebagian wilayah Cirebon ada yang masuk ke dalam kekuasaan Rajagaluh. (Bersambung)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed