oleh

Apa manfaat puasa bagi yang menjalankannya?

Oleh Ustaz Fariq Gasim Anuz

“Bukanlah seorang mukmin apabila dirinya kenyang sementara tetangganya lapar”. Demikian hadits Shahih dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam yang diriwayatkan Hakim.

Diantara faidah dari puasa baik di bulan Ramadhan atau selainnya adalah melembutkan hati dan mengasah kepekaan jiwa. Dengan kita merasakan lapar dan haus di siang hari saat puasa, kita merasakan apa yang dirasakan oleh saudara-saudara kita dari kaum fakir miskin. Timbul kepedulian dan semangat berbagi dengan memberinya makan dan sedekah sesuai dengan apa yang dibutuhkan saudara kita.

Kita melihat pemandangan yang indah di teras Ka’bah dan di Masjidil Haram. Ketika tawaf, ada banyak jamaah Umrah yang membawa anak usia balita. Ketika anak balita itu menangis, maka jamaah Umrah dari Negara lain yang berada di belakangnya spontan membuka tas kecilnya dan mengeluarkan coklat atau permen dan memberikannya kepada ayah atau ibu anak tersebut, agar memberikannya kepada si anak. Subhanallah spontan anak kecil itu berhenti dari tangisannya.

Saat tawaf, banyak orang berdiri di sekeliling Ka’bah bersedekah dengan tisu. Banyak jamaah Umrah yang kepanasan dan berkeringat mengambil tisu secukupnya dan mengusap keringat dengan tisu tersebut.

Banyak kaum muslimin yang memberikan ta’jil dan air zam-zam kepada jamaah yang akan berbuka puasa di Masjidil Haram.

Seorang muslim ikut merasakan kesusahan orang miskin dan janda. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda yang artinya, ” Orang yang memberikan kecukupan kepada para janda dan orang-orang miskin, sama seperti seorang mujahid di jalan Allah atau seperti orang-orang yang selalu shalat di malam hari dan berpuasa di siang hari” (Bukhari)

Seorang muslim merasakan kesedihan dan penderitaan anak yatim. Ada seorang laki-laki datang menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengeluhkan hatinya yang keras. Beliau memberikan solusi,” Apakah engkau ingin hatimu menjadi lembut dan kebutuhanmu terpenuhi? Sayangilah anak yatim, usaplah kepalanya dengan lembut, dan berilah ia makanan seperti yang biasa engkau makan, niscaya hatimu menjadi lembut dan kebutuhanmu akan terpenuhi,” (Al Mushannaf oleh Abdur Razaq)

Seorang muslim ketika diminta untuk mendamaikan orang yang berselisih ia akan berusaha mendamaikan dengan adil meskipun resikonya ia tidak disukai oleh salah satu atau kedua belah pihak.

Seorang muslim ketika melihat kedzaliman ia tidak akan berpangku tangan. Ia akan membela orang yang didzalimi dan menolong orang yang berbuat dzalim agar ia kembali ke jalan yang benar.

Jika kita bertiga, kita tidak berbisik-bisik berdua karena hal yang demikian membuat sedih orang yang ketiga. Jika kita berjumpa teman kita di jalan, ia bersama temannya yang tidak kita kenal. Kita tidak hanya menyalami dan berjabat tangan dengan teman kita saja. Jika kita sedang mengendarai kendaraan bermotor dan berada di lampu merah, kita tidak akan berhenti di jalur kiri menutupi kendaraan di belakang kita yang akan belok kiri. Kalau kita di rumah atau di kantor atau di sekolah/ di pondok pesantren, kita tidak akan membiarkan lampu menyala atau keran air kamar mandi mengalir padahal kita sudah selesai menggunakannya. Kalau kita sedang mengendarai kendaraan bermotor dan melewati genangan air, kita akan memperlambat kecepatan kendaraan agar orang yang berjalan kaki tidak terguyur air genangan tersebut.

Semoga Allah melembutkan hati kita semua, membimbing kita untuk selalu bersikap empati kepada sesama dan mengaruniakan kepada kita sebagai orang-orang yang bertakwa. amin.

Info Seminar

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed