oleh

Apa hikmah pertanyaan malaikat di alam kubur?

aitrades

Oleh  Ustaz Casmin AR, S.Th.I*

DIJELASKAN dalam Q.S. Al-Baqarah (2): 30, Saat Allah mendeklarasikan rencana penciptaan dan pengangkatan manusia sebagai khalifah di bumi, mahluk-Nya yang paling taat dan setia yakni para malaikat terkesan sangsi dan merasa keberatan dengan rencana tersebut. Mereka beralasan manusia mempunyai kecenderungan membikin kerusakan di bumi dan gemar melakukan pertumpahan darah.

Allah sebagai Dzat Mahabijaksana dalam segala hal lebih mengetahui terhadap segala kebijakannya. Pemilihan manusia sebagai khalifah di bumi adalah keputusan yang tepat dan bijak. Dalam ayat tersebut Allah tidak menyalahkan dan tidak menyangkal alasan para malaikat.
Apa yang dikatakan malaikat terbukti benar karena manusia banyak melakukan kerusakan di bumi dan banyak melakukan pertumpahan darah.
Bahkan, salah satu anak Nabi Adam a.s. sendiri yaitu Qabil telah membunuh saudaranya sendiri Habil. Banyak peperangan pada masa lalu, bahkan pada masa sahabat Nabi sampai saat ini. Ratusan ribu bahkan jutaan manusia mati dalam peperangan. Semuanya menunjukkan kebenaran apa yang disampaikan malaikat.

Namun Allah juga mempunyai alasan sendiri yang jauh lebih maslahat. Karena ternyata banyak juga manusia yang baik, yang bisa dibanggakan. Seperti banyaknya para Nabi dan rasul, banyak pengikut mereka yang setia. Allah mempunyai visi dan misi yang sangat besar melampaui apa yang diprediksi oleh malaikat. Visi dan misi besar dan mulia tidak bisa gagal, hanya karena kekhawatiran yang belum terbukti. Jika pun kekhawatiran itu terbukti, apabila kemaslahatannya jauh lebih besar tetap harus dimenangkan. Inilah kaedah kehidupan yang patut jadi renungan bersama.

Dalam ayat selanjutnya, Al-Baqarah (2): 31-33, dijelaskan untuk membekali dan mempersiapkan manusia (baca: Adam) sebagai khalifah di bumi, Allah membimbing dan mengajarkan Adam ilmu dan banyak bahasa (al-asma), sehingga Adam menjadi manusia yang berilmu dan memiliki wawasan luas. Selanjutnya sebagai ajang pembuktian atas rencana pengangkatan Adam sebagai khalifah di bumi, juga atas kesangsian malaikat terhadap eksistensi Adam. Allah melakukan fit and proper test untuk keduanya: Adam (manusia) dan Malaikat.

Adam a.s. mampu menjawab semua pertanyaan yang telah dibebankan kepadanya, berbeda dengan jawaban yang disampaikan para malaikat terhadap pertanyaan yang sama dengan Adam. Mereka tidak mampu menjawab; “Maha Suci Engkau (Allah) tidak ada yang kami ketahui, selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

Ada analisa menarik yang disampaikan Syeikh Abdurrahim al-Qadhi dalam kitab Daqaiq al-Ahbar (hal.17), mengenai keterkaitan antara proses penciptaan dan pengangkatan manusia (Adam) sebagai khalifah dengan pertanyaan malaikat Munkar Nakir di alam kubur.

Titik awalnya bermula dari kesangsian malaikat atas penciptaan dan pengangkatan manusia sebagai khalifah, hingga berlanjut pada fit and proper test antara keduanya. Kesangsian atau keraguan malaikat yang dijelaskan dalam al-qur’an surat al-baqarah: 30 (man yufsidu fiiha) terhadap “seseorang” yang akan membuat kerusakan…., dalam banyak tafsir dijelaskan sebagai Adam. Padahal diksinya sendiri menggunakan kata/lafadz “man”, maknanya seseorang yang masih umum, belum tertuju pada seorang secara khusus. Ini artinya kesangsian malaikat ini tidak hanya ditujukan atas Adam, tapi berlaku juga untuk manusia lainnya (bani Adam).

Pertanyaan Munkar Nakir di dalam kubur di samping tugas dari Tuhan yang mesti diemban, juga sebagai media pembuktian para malaikat atas kesangsian mereka terhadap manusia atau bani Adam, dengan saksi dua malaikat, yaitu munkar nakir. Karena kesaksian bisa dianggap sah ketika minimal dihadiri dua orang/saksi, di sinilah hikmahnya kenapa malaikat yang bertugas bertanya di alam kubur ada dua malaikat.

Di riwayatkan, setelah manusia meninggal dunia kemudian mereka dikebumikan di liang lahat yang gelap gulita, jauh dari sanak keluarga, tidak ada teman yang menemani juga tidak ada harta benda disisinya. Ketika ditanya oleh Munkar Nakir, “Siapa Tuhanmu?”, “Siapa Nabimu ?”, dan “Apa Agamamu ?”.

Maka dijawabnya dengan ikhlas tanpa ragu, “ Allah Tuhanku”, “Muhammad Nabiku” dan “Islam Agamaku”. Lalu Tuhan berseru, “Wahai semua malaikat, dengan kamu munkar nakir sebagai saksinya, perhatikanlah saat ini seorang anak manusia dalam gelapnya kubur, ketika ditanya siapa Tuhannya, dijawabnya dengan ikhlas tanpa ragu, “Allah Tuhanku”. Inilah manusia yang dulu kalian ragu dan sangsi atasnya, saat hidupnya dia beriman kepada-Ku, sampai matinya dia tetap beriman dan tauhid padaku. Inilah manusia yang kalian dulu ragu atas eksistensinya. Lalu malaikat menjawab, Subhanaka la ilma lanaa illa maa alamtanaa inaka anta al-alim al-hakim (“Maha Suci Engkau (Allah) tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”).

Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Siti Aisyah, dijelaskan bahwa Allah berbangga kepada para malaikat-Nya pada saat kaum muslimin berkumpul di Arafah untuk menunaikan ibadah haji. Allah bertanya kepada para malaikat, apa maksud mereka kumpul disana? Malaikat menjawab, bahwa mereka berkumpul untuk meminta ampunan kepada Allah dan memohonkan rahmat-Nya.

Dengan pertanyaan tersebut Allah ingin membuktikan kepada para malaikat bahwa apa yang mereka khawatirkan dengan kekhilafahan manusia di bumi tidaklah seperti persepsi mereka. Terbukti banyak manusia yang mau mengikuti kehendak Allah. Wallahu a’lam bish-showwab. []

*Penulis merupakan wakil Ketua MWC NU Kecamatan Kandanghaur Kabupaten Indramayu. Penulis juga sebagai Pelaksana Gala Syariah Kemenag Subang.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed