oleh

Angkawijaya dan Misteri Pembuatan Kereta Singa Barong

aitrades

Citrust.id – Kereta Singa Barong yang kini tersimpan di museum Keraton Kasepuhan memiliki cerita unik tersendiri dalam pembuatanya, kereta kerajaan yang bentuknya indah, berkepala burung garuda serta memiliki belalai seperti gajah dan terdapat trisula di belalainya dengan berbadan singa dan bersayap, ini diciptakan sudah 500 tahun lalu dengan kondisi yang sekarang masih utuh.

Alkisah, dari penuturan Umarno, salah satu kuncen sejarah di komplek Makam Angkawijaya atau Pasarean ini menceritakan, bahwa awal pembuatan Kereta Singa Barong ini diinisiasi oleh mimpinya Panembahan Losari (Angkawijaya).

Di dalam tidurnya ia bermimpi ada mahluk yang terbang mengelilingi di sekitaran langit dengan berbadan singa, berkepala burung garuda, di kepalnya memiliki belalai dan terdapat trisula, juga bersayap.

Dari mimpinya itu yang sedikit aneh, kemudian ia ceritakan kepada Panembahan Ratu I Sultan Cirebon ke III. Selang berapa hari sang sultan memanggil pengrajin kayu atau seniman ukir untuk menterjemahkan mimpi Pangeran Angkawijaya ke dalam bentuk sebuah kereta.

Ditangan Ki gede Kaliwulu sebagai pengrajinnya, terciptalah bentuk kendaraan raja Cirebon yang begitu indah dan esentrik, sebuah kereta yang tidak umum dengan kerajaan lainnya, karna dari tiap ukiranya memiliki falsafah sendiri.

Dari namanya saja, kata Barong memiliki arti barengan atau bergumul dengan orang banyak. Ini sama halnya dari penamaan awal Cirebon dahulu, sarumban atau campuran. Ini menunjukan bahwa pluralisme di wilayah Cirebon sangat kental, karna dari mulai etnis cina, asia timur, arab dan berbagai agama di Cirebon.

Kereta yang rampung dibuat pada tahun 1571 saka atau 1646 M sudah canggih pada masanya, dari struktur interiornya sudah menggunakan empat roda, dua di depan kecil dan dua di belakang besar, roda-roda tersebut dibuat sedemikian rupa sehingga menghalau lumpur atau tanah, tidak mengotori badan kereta saat melewati jalanan becek dan juga sudah dipenuhi dengan sistem suspensi, membuat kenyamanan tersendiri pagi penunggangnya saat melewati jalan yang terjal atau melewati kerikil tetap bisa menjaga keseimbangnanya.

Kereta ini ditarik oleh empat ekor kerbau (kebo bule) dan dituasnya sudah menggunakan sisitem hidrolyk, sehingga memudahkan pengemudi memudahkan mengendalikannya. Sejak tahun 1942 kereta Singa Barong sudah tidak digunakan lagi. /314

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed