oleh

Admin Medsos

Oleh DADANG KUSNANDAR*

SAHABAT saya rajin berselancar di dunia maya. Kantor tempatnya bekerja memungkinkan bebas mengakses apa saja yang berhubungan dengan pekerjaannya. Wifi di kantornya cespleng dan ngebut.

Sebagai ahli desain interior ia kerap membandingkan hasil karyanya dengan desain interior yang tengah ngetrend. Maka ia pun berselancar di dunia maya untuk memperoleh inspirasi.

Akan tetapi manakala perusahaan dilanda situasi sepi order, ia menyapa teman-temannya melalui media sosial atau aplikasi pesan lintas (chat aplication). Lantaran apik menyimpan data teman-teman, ia didaulat sebagai admin. Tak heran jika ada reuni grup chat dan grup medsos, ia didapuk menjadi panitia.

Suatu saat ia bercerita kepada saya. “Bro gimana ya si X masih begitu saja pemahaman agamanya”, ujarnya kepada saya. Lalu ia menjelaskan si X ini ngakunya alumni 212 dan hampir seluruh postingnya berupa ajakan yang memaksa untuk melaksanakan isi tautan hasil copas.

Katanya pula, saya justru heran akan sikapnya belakangan ini. Sepertinya ia tidak menyukai saya karena saya sering mementahkan argumennya yang dangkal. Lucunya lagi si X kalau kepepet memaki teman-teman (anggota grup) dengan umpatan kasar. Neraka. Kafir. Kamu harus baca syahadat lagi. Dan aneka rupa caci maki yang tak pantas diucapkan orang berusia di atas 50 tahun.

Saya mencoba menjawab. Biarkan saja loed, orang sedang mengalami fase “beger agama” kerap melalukan pembenaran atas hal apa pun yang diyakininya. Bagai menemukan cahaya, si X ingin membagikan cahaya itu kepada semua anggota grup medsos.

Ternyata jawaban saya disanggah. Katanya, “Cahaya apa. Dia sendiri hanya copy paste. Dia sama sekali tidak membaca postingannya. Justru ia merasa dengan cara copas ke grup, ia telah berjihad”.

Saya tercenung sejenak. Tapi apa boleh buat meski sering jadi bahan olok-olok sesama anggota grup medsos, si X menganggap hal itu sebagai tantangan dakwah yang harus dihadapinya dengan gagah berani. Bahkan anggota grup sengaja mengalihkan tema obrolan seusai si X muncul. Dengan kata lain si X teralienasi dari perbincangan, terlebih bila menyoal kedalaman makna spiritualitas.

Untuk sedikit menenangkan dan menghibur sahabat yang ahli desain interior itu, saya menulis kalimat singkat: Agama bukan untuk diperdebatkan melainkan untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Terbongkarnya Muslim Cyber Army (MCA) belakangan ini, semoga kiranya menyadarkan si X; meski si X bukan anggota MCA. Si X yang getol copas masalah agama di medsos itu (kata teman si ahli desain interior) ternyata beristrikan seorang ASN. []

*Kolomnis, tinggal di Cirebon.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed