oleh

Abah Dino dan Kesenian

aitrades

Oleh DADANG KUSNANDAR*

IKLIM kesenian di Cirebon sebenarnya terus berdetak. Hanya saja  pada tiap event kesenian tidak mampu menjalin silaturahmi yang baik. Memang bagus papar Dino Sahrudin/ Abah Dino bahwa pegiat kesenian terus berkreasi. Tanpa lelah rangka bangun kesenian terus ditata. Ini menggembirakan namun harus mampu melibatkan masyarakat.

Hari Minggu merupakan hari olah raga di Stadion Bima. Penggila olah raga beramai-ramai datang ke Bima tanpa undangan. Berbagai komunitas memanfaatkannya untuk banyak kepentingan termasuk pedagang yang cukup memadati Komplek Olah Raga Bima.

Betapa indahnya apabila di Bima sekali sebulan digelar pentas kesenian. Pertunjukkan berlangsung bersamaan waktunya dengan kegiatan olah raga rutin mingguan di Bima. Abah Dino memandang perlu adanya partisipasi publik pada tiap pentas kesenian. Partisipasi dimaksud adalah pelibatan masyarakat sebagai penonton. Bukankah pentas kesenian yang sepi penonton merupakan kegagalan panitia pelaksana.

Pelibatan penonton pada pentas seni sejalan dengan lembaga yang dulu diawaki Endo Suwanda, Masyarakat Seni Pertunjukkan Indonesia (MSPI). Kabarnya pula Taufiq Rahzen pernah duduk memimpin MSPI.

Lazim terjadi panitia pelaksanaan pentas kesenian mengundang penonton. Entah berupa undangan cetak, sosmed dan sebagainya. Ketika pentas berlangsung ternyata sepi penonton. Menyiasati sepinya penonton, Komplek Bima di hari Minggu merupakan opsi yang tepat.

Abah Dino, pengobeng kesenian yang giat wara-wiri, mengusulkan pentas wayang wong bertema Bima/ Werkudara dari keluarga Pandawa dan putra kedua Pandu Dewanata. Pentas lain adalah arak-arakan atau helaran dengan ikon ketokohan Bima. Dua kegiatan yang dilaksanakan di Komplek Bima Cirebon pada hari Minggu tak pelak ramai penonton. Tanpa mengandalkan undangan cetak, masyarakat datang sendiri.

Dengan demikian apresiasi masyarakat terhadap kesenian akan tumbuh. Kian banyak penonton kian banyak apresiator kesenian. Bayangkan komunitas sepeda ontel menilai kesenian. Pedagang kagetan menilai kesenian, dan seterusnya. []

*Penulis lepas, tinggal di Cirebon.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed